Artikel

Tantangan NU di Luar Jawa

Oleh Ahmad Karsono Kasani

Sebagaimana diketahui, Nahdlatul Ulama lahir di Jawa, tepatnya di Jombang, Jawa Timur. Itupun, dari segi waktu, sudah termasuk telat. Karena sudah banyak organisasi, baik nasionalis maupun agama, yang lahir jauh sebelum NU. Budi Oetomo muncul tahun 1908, Sarekat Islam berdiri tahun 1911, disusul Muhammadiyah tahun 1912 dan NU baru lahir tahun 1926.

Dari segi faham keagamaan, sebenarnya NU adalah yang paling awal. Ini karena ajaran dan amalan yang ada di NU adalah apa yang diajarkan dan disebarkan oleh Wali Sanga. Sedangkan organisasi keagamaan lain, Muhammadiyah misalnya, meskipun lebih awal berdirinya, namun membawa ajaran pembaharuan yang sebenarnya muncul belakangan.

Membawa dan mengkapitalisasi nama Wali Sanga, dan belakangan istilah Islam Nusantara, jika tidak disertai dengan penjelasan yang baik dan memadai ke audien, justru akan membuat dampak yang kurang baik bagi NU.

Begini, jangan salah paham dulu. Bagaimanapun juga, Wali Sanga itu identik dengan Jawa. Itupun hanya Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dan satu di Jawa Barat. Artinya, tidak semua orang yang ada di pulau Jawa memiliki kedekatan dengan Wali Sanga. Nah, apalagi orang-orang yang ada di luar Jawa.

Begitu juga istilah Islam Nusantara. Sampai saat ini masih terkesan Jawa sentris.

Maka, jangan sampai NU, yang lingkup jelajahnya nasional, dari Sabang sampai Merauke, bahkan lingkup internasional, menjadi hanya sebatas lokal Jawa.

Karena itu, perlu dirumuskan ulang, kira-kira apa yang dapat diambil dari Wali Sanga, yang tidak hanya diterima oleh masyarakat Jawa saja, tetapi juga oleh masyarakat luar Jawa. Mungkin hal itu bisa berupa semangat, metode dakwah, prinsip-prinsip Wali Sanga dalam menyebarkan ajarannya, dan lain-lain.

Sehingga ketika orang luar Jawa mendengar nama Wali Sanga, yang pertama kali diterima bukan jawanisasi, tetapi internalisasi ajaran Islam.

Di sisi lain, NU perlu mengeksplor lebih jauh tokoh-tokoh penyebar Islam di luar Jawa yang sejalan dengan ajaran ahlus sunnah wal jama’ah an-nahdliyyah. Sehingga orang-orang luar Jawa semakin kuat rasa kepemilikannya terhadap NU. Karena faktanya ada banyak sekali tokoh-tokoh penyebar Islam di luar Jawa yang sehaluan dengan NU namun belum mendapatkan perhatian dan pemberitaan yang memadai.

Jika hal-hal demikian tidak dilakukan, maka tidak menutup kemungkinan NU yang saat ini menjadi minoritas di luar Jawa, akan semakin redup karena tergilas oleh kelompok-kelompok lain yang terus bergerilya.

NU dan Ibukota Baru

Termasuk tantangan nyata dan mendesak saat ini adalah rencana perpindahan Ibukota dari Jakarta ke Kalimantan. Kalau rencana ini benar-benar terwujud, apa rencana dan persiapan yang akan dilakukan oleh NU?

Kita tahu, di Kalimantan, NU masih minoritas. Bisa jadi sangat minoritas sekali. Nah bagaimana caranya NU bisa mewarnai Ibukota baru nantinya. Bagaimana caranya agar pesantren-pesantren dan sekolah-sekolah NU bisa berpartisipasi di sana. Bagaimana caranya agar kiai-kiai dan gus-gus NU yang sudah over load di Jawa bisa meramaikan Ibukota baru nantinya.

Karena seringkali terdengar desas-desus bahwa tetangga kita memiliki sumber dana yang tak terbatas dari Timur Tengah. Kalau desas-desus itu benar adanya, bisakah NU bersaing dengan mereka dalam memperebutkan lahan dan SDM di Ibukota baru nanti?


Ahmad Karsono Kasani, alumni PIM 2004, Ponpes Darussalam, dan Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta. Pendiri M3K (Majlis Musyawarah Ma’had Kajen) dan sekarang sebagai pengajar di Ponpes Al-Muttaqien Pancasila Sakti, Klaten.

Keterangan foto: penulis dan keluarga kerawuhan kiai ‘alim yang menjadi artis media sosial dan calon ketum PBNU, Prof. Dr. Nadirsyah Hosen.

Tinggalkan komentar

Pojok PIM

FREE
VIEW