HikmahRekomendasi

Satu-Satunya Anak Adam yang Lahir di Dalam Ka’bah

Oleh Muhammad Hilal Zain

Hampir seluruh manusia di muka bumi ini tahu akan bangunan Ka’bah dan bahkan umat Islam sedunia setiap harinya bersembahyang menghadap Ka’bah dan jihatul Ka’bah.

Ka’bah yang terkenal dan diketahui sebagai kiblat bagi setiap umat Islam dan dijadikan tempat thawaf bagi para jamaah haji, ternyata juga menjadi tempat lahirnya salah satu sahabat terbaik Nabi.

Sebagian kita mungkin bertanya-tanya; Benarkah ada seorang sahabat Nabi yang dilahirkan di dalam Ka’bah al musyarofah? Bagaimana semua itu bisa terjadi ? Dan siapakah sahabat itu?

Tarikh

Pada hari Jum’at, tanggal 13 bulan Rajab tahun ke-30 penanggalan Tahun Gajah, ada sebuah fenomena langka yang sebelumnya tak pernah ada dan mungkin tak akan pernah terulang kembali dalam sejarah peradaban manusia. Fenomena itu adalah lahirnya seorang sahabat Nabi di dalam bangunan Ka’bah.

Imam Hakim Annaysaburi dalam kitab Al Mustadrak-nya mencatat bahwa di hari yang luar biasa, di bulan yang begitu agung dan di tempat yang begitu suci lahirlah seorang manusia istimewa, sahabat terbaik Nabi dan juga sepupu Nabi; Sayyidina Ali bin Abi Tholib karromallahu wajhahu.

Makam Sayyidina Ali.
Foto: Muhammad Hilal Zain

Al kisah

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Jabir dari Yazid bin Qa’nab;

Aku, Abbas bin Abdul Mutholib dan beberapa saudara-saudara lainnya sedang duduk-duduk bersandar di dekat Ka’bah, tiba-tiba datanglah Fatimah binti Asad dari arah kejauhan menuju Ka’bah dengan sedikit rasa cemas dan gelisah terlihat di wajahnya.

Fatimah binti Asad yang sebelumnya terlihat seperti wanita yang sedang tidak dalam keadaan hamil akhirnya bersandar di pojok selatan dinding Ka’bah seraya berkata;

“Ilahii… Demi keagungan dzat-Mu, demi para Nabi-Mu dan demi semua kitab-kitab yang telah Engkau turunkan untuk menjadi pedoman umat Nabi-Mu, aku bersaksi tiada Tuhan selain-Mu dan aku bersaksi apa yang dikatakan oleh kakekku Nabi Ibrahim alaihissalam adalah kebenaran yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Maka dari itu, dengan keagungan-Mu, mudahkanlah aku dalam melahirkan jabang bayi yang ada dalam kandunganku.”

Setelah ia selesai bermunajat di pojok selatan dinding Ka’bah, tiba-tiba dinding Ka’bah itu roboh dan membuka seperti terbukanya pintu bagi seorang tamu. Lantas ia pun bergegas masuk ke dalam bangunan suci itu. Tak lama berselang setelah ia masuk, dinding yang sudah roboh tadi kembali dalam bentuk semula seakan tak terjadi apa-apa sebelumnya. Aku dan orang-orang yang melihat kejadian itu segera menyusulnya ke arah dinding Ka’bah tersebut dan berupaya untuk mencoba membuka kembali dindingnya, namun usahaku sia-sia karena dinding itu tak dapat untuk aku buka.


Dan diriwayatkan bahwa Fatimah binti Asad berada dalam bangunan Ka’bah itu selama tiga hari tiga malam. Kemudian dari dinding yang sama dan dengan keadaan yang sama, ia keluar dengan menggendong Sayyidina Ali karromallahhu wajhahu. Salah seorang yang melihat dan kebetulan sedang berada di dekat Ka’bah pun akhirnya segera mengantarkannya kepada suaminya Abu Tholib untuk dibawa ke rumahnya. Dan di rumah, Nabi Muhammad Saw. ternyata sudah menunggu kedatangan saudaranya tersebut, lantas beliau gendong dan kecup bibir saudaranya tadi seraya mengumandangkan adzan dan iqomah di telingan mulia Sayyidina Ali karromallahu wajhahu. (*)

Muhammad Hilal Zain, alumnus PIM tahun 2013, mahasiswa Pascasarjana Jurusan Perbandingan Tafsir Al-Musthofa International University Esfahan Iran.

Pojok PIM

FREE
VIEW