Tanya Jawab Fiqih

Salat Jamak untuk Penonton Sepak Bola

Salat Jamak untuk Penonton Sepak Bola

Sepak bola merupakan olahraga paling populer sejagat. Dari usia belia sampai yang telah lanjut usia, banyak orang berbondong-bondong ingin menyaksikan pertandingan tim kesayangannya baik secara langsung maupun dari layar kaca. Karena sepak bola tidak hanya olahraga, namun juga kecintaan. Orang-orang yang menyaksikan sepak bola bisa jadi tidak suka olahraga. Tetapi, demi mendukung tim kesayangan, mereka rela untuk mengeluarkan biaya tiket, kouta internet atau meluangkan waktu padatnya karena rasa cinta itu.

Sayangnya, kecintaan mereka terhadap tim sepak bola sering kali melalaikan kewajiban mereka kepada Tuhannya. Pertandingan sepak bola yang sering kali digelar di sore hari atau di awal malam membuat kebanyakan orang meninggalkan salat. Jika pertandingan digelar di sore hari, yang datang dari jauh pasti akan datang lebih awal untuk membeli tiket, mencari tempat duduk dan tentu, menghindari kemacetan. Ini berarti, penonton yang seperti ini bisa datang setelah waktu zuhur dan pulang sebelum atau setelah maghrib. Artinya, mereka berpotensi kehilangan waktu salat asar. Bukankah kita bisa salat asar di tempat-tempat terdekat? Coba kita bayangkan jika ribuan orang yang mau menonton bola itu salat di tempat yang sama. Kita harus mengantri berjam-jam untuk wudlu dan melaksanakan salat. Jika itu terjadi, bisa jadi kita kehabisan tiket.

Jika pertandingan digelar setelah maghrib, masalah akan lebih sulit lagi. Penonton yang datang dari jauh bisa jadi datang ke stadion siang hari dan pulang setelah isya’. Mereka berpotensi melewatkan dua salat sekaligus, asar dan maghrib. Itu baru penonton. Bagaimana dengan pemain, wasit dan penjaga tiket yang sudah punya kesibukan sebelum pertandingan dimulai? Lalu, bagaimana fikih memandang masalah ini? Apakah kita boleh meninggalkan salat untuk mendukung tim kesayangan, ataukah kita harus melewatkan pertandingan karena salat?

Salat merupakan ibadah yang wajib dilakukan di waktu-waktu yang telah ditentukan. Dalam keadaan apapun, seorang yang telah berikrar dua syahadat wajib menjalankannya selama nafas masih berhembus. Meskipun salat merupakan ibadah yang agak susah untuk dinego, Islam memberikan banyak kemudahan untuk menjalankannya. Allah berfirman:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍۢ … الأية (الحج: 87)

“Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam beragama… (QS. Al-Hajj: 87)”

Semua ulama mazhab sepakat, Islam memberi kemudahan untuk melakukan salat jamak, taqdîm maupun ta’khîr, kepada orang-orang yang sedang bepergian jauh. Mazhab Imam Ahmad dan sebagian ulama Syafi’iyyah memberi keringanan kepada orang sakit untuk manjamak salat. Tidak hanya itu, Mazhab Imam Ahmad juga memberi kelonggaran kepada orang-orang yang mempunyai kesibukan tertentu dan orang-orang yang dalam posisi takut. Ibn Taimiyah bertutur:


إن مذهب أحمد جَوَّزَ الْجَمْعَ إذَا كَانَ لَهُ شُغْلٌ، كما روى النسائي ذلك مرفوعًا إلى النبي صلى الله عليه وآله وسلم، …” إلى أن قال: “يجوز الجمع أيضًا للطباخ والخباز ونحوهما فيما يخشى فساد عمله وماله”. (“الفتاوى الكبرى” لابن تيمية ج 5/ ص 351، ط. دار الكتب العلمية)

Sesungguhnya Mazhab Imam Ahmad membolehkan menjamak salat untuk seorang yang mempunyai kesibukan, seperti yang diriwayatkan Imam Nasai dalam hadis mar’fû’ yang sampai pada Rasulullah. . . maka dari itu, juru masak, pembuat roti dan sebagainya diperbolehkan untuk menjamak salat karena takut pekerjaannya dan barangnya akan rusak.

Imam Nawawi dalam Syarh Sahih Muslim menulis:


ذهب جماعة إلى جواز الجمع في الحضر؛ للحاجة لمن لا يتخذه عادة، وهو قول ابن سيرين وأشهب من أصحاب مالك وحكاه الخطابي عن القفال الشاشي الكبير من أصحاب الشافعي (صحيح مسلم بشرح النووي ج 3 ص 186 ط. دار الكتب العلمية)

Segolongan ulama berpendapat bolehnya menjamak salat ketika tidak sedang bepergian karena adanya suatu keperluan, untuk orang tidak menjadikan salat jamak sebagai kebiasaan. Ini adalah pendapat Ibn Sirin dan Asyhab yang keduanya merupakan ulama dari Mazhab Malik, dan diceritakan oleh Al-Khattabi dari Al-Qaffal Al-Syasyi Al-Kabir, seorang ulama Mazhab Syafi’i.

Pendapat ini berdasar dari perkataan Ibn Abbas:


جَمَعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ”. فَقِيلَ لِابْنِ عَبَّاسٍ: لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ؟ قَالَ: “أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ” رواه مسلم.

Rasulullah Saw. menjamak salat zuhur dan asar, maghrib dan isya’ ketika di Madinah tanpa (kondisi) takut dan tanpa ada hujan. Ditanyakan kepada Ibn Abbas: Mengapa Rasulullah melakukan demikian? Ibn Abbas menjawab: Beliau tidak ingin memberatkan umatnya. (HR. Muslim)

Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam fath al-Bârî berkomentar:


وقد ذهب جماعة من الأئمة إلى الأخذ بظاهر هذا الحديث فجوزوا الجمع في الحضر للحاجة مطلقًا.. وممن قال به: ابن سيرين وربيعة وأشهب وابن المنذر والقفال الكبير، وحكاه الخطابي عن جماعة من أصحاب الحديث اهـ. (فتح الباري ج2 ص24، ط. دار المعرفة)


Sekelompok ulama berijtihad dengan mengambil tekstual hadis ini. Maka mereka membolehkan salat jamak dalam keadaan tidak bepergian karena suatu kebutuhan, secara mutlak (tanpa batasan seberapa besar dan merepotkan kebutuhan tersebut, pen). . . termasuk ulama-ulama yang mengamini pendapat ini adalah Ibn Sirin, Rabi’ah, Asyhab, Ibn Al-Mundzir, Al-Qaffal Al-Kabir, yang diceritakan Al-Khattabi dari sekelompok ahli hadis.

Inilah warisan tradisi intelektual kita. Banyak pendapat ulama-ulama kita yang lebih mudah untuk kita pilih. Kita boleh menjamak salat—namun tidak dengan mengqasarnya—karena kebutuhan tertentu semisal mengobati pasien bagi dokter, mengikuti seminar, mengadakan resepsi pernikahan, dan bisa juga, menonton sepak bola, karena menonton sepak bola bukan termasuk perbuatan maksiat.

Di lingkungan Universitas Al-Azhar, pendapat menjamak salat karena suatu kepentingan cukup populer. Sebelum peraturan tentang durasi ujian semester dirubah dari tiga jam menjadi dua jam, sekitar lima tahun lalu, terdapat beberapa fakultas yang melaksanakan ujian dari waktu asar lebih sedikit sampai waktu maghrib datang. Mengapa waktu ujian tidak dimundurkan sekiranya ratusan orang bisa salat dulu sebelum ujian? Karena dalam kondisi seperti ini salat jamak diperbolehkan. Dalam sidang tesis magister maupun doktoral, terkadang terdapat penguji-penguji yang dengan sengaja ingin menguji mahasiswa sampai habis. Sidang tesis pun bisa berlangsung sampai enam sampai tujuh jam, dari setelah zuhur sampai setelah isya’. Uniknya, para penguji secara bergantian mengomentari hasil penelitian mahasiswanya sampai berjam-jam tanpa memberi waktu jeda untuk melaksanakan salat. Apakah para penguji yang notabene para professor di bidang agama ini membiarkan salat disepelekan? Tidak. Justru karena mereka tahu dalam kondisi seperti ini salat boleh dijamak, mereka membiarkan mahasiswa yang diujinya untuk mendengarkan komentar para penguji sampai selesai.

Kemudahan yang diberikan Islam kepada umatnya ini sudah sepatutnya untuk disosialisasikan kepada masyarakat. Sangat disayangkan jika kecintaan terhadap sebuah tim harus ditebus dengan meninggalkan perintah agama. Jika ada jalan untuk mengekspresikan kecintaan terhadap sebuah tim tanpa meninggalkan syariat agama, mengapa tidak kita pilih?

*M. Fazal Himam,
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Jurusan Tafsir & Ulumul Qur’an

Pojok PIM

FREE
VIEW