Artikel

Reinterpretasi Makna Shalih dan Shalihah


Oleh MN Ulya

Dalam beberapa kesempatan, seringkali didapati para ulama atau kiai mendoakan perempuan yang belum menikah dengan doa supaya kelak mendapatkan suami yang saleh. Sederhananya, pria yang saleh menjadi bidikan utama dalam sebuah pernikahan. Begitu pula dengan perempuan salehah yang menjadi target bagi para pria untuk menjadikannya sebagai istri idaman. Namun kenyataannya, pemaknaan orang saleh dan salehah ini terdapat perbedaan satu sama lain.

Ada yang menggambarkan pria saleh dengan seorang pria yang mendalami ilmu agama dengan kaffah (sempurna), atau menguasai keilmuan agama dengan baik dan benar. Cukup sampai di situ saja. Dalam artian, kesalihannya diukur dengan seberapa tinggi kualitas ilmu agamanya. Ada pula yang tidak hanya berhenti sampai di situ. Tidak hanya sekedar berilmu, tapi juga mengamalkan ilmunya. Amalan ilmu ini seringkali dibataskan pada amalan-amalan ubudiyah atau ibadah ritual dan individualnya. Seperti misalnya, rajin jamaah, rajin wiridan, rajin ibadah sunnah, hafal Al-Quran, dan amalan lain yang sifatnya personal.

Ada pula yang memaknainya lain dari kedua kategori tersebut. Yaitu menilai dari yang tampak di depan mata terkait tingkah lakunya. Contoh sederhananya adalah pria yang tidak berani memandang wanita yang dipinangnya, atau bahkan pria yang tidak mau memandang kamera saat difoto, jidat hitam sebagai pertanda rajin bersujud, dan beberapa kategori-kategori lain yang masuk dalam frame pria saleh. Adapun saleh dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia digambarkan dengan taat serta bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah. Kesalehan adalah ketaatan dalam menjalankan ibadah.

Sementara itu, wanita salehah terkadang dicerminkan pada mereka yang memakai jilbab dan menutup auratnya. Sesimpel itu. Seolah-olah indikator salehahnya perempuan hanya bisa dilihat dan dinilai dari cara berpakaiannya. Yang lebih ekstrim lagi, wanita yang tidak mau mengumbar fotonya di media sosial. Kriteria ini biasanya dimainkan oleh mereka yang sering berkampanye untuk menggunakan jilbab sebagai simbol hijrah dan cenderung merendahkan perempuan lain yang tidak berjilbab.

Di kesempatan yang lain, wanita salehah dicerminkan pada wanita yang nurut manut terhadap suami, menaati dawuh suami, melayani suami, dan sederet pandangan-pandangan lainnya yang mencerminkan perempuan sebagai entitas makhluk yang mana apabila suami bersabda, di situlah perempuan harus menjalankannya tanpa kompromi. Tidak dapat dipungkiri bahwa pendapat ini masih sering menjadi kabut pemahaman yang sangat sempit tentang definisi perempuan salehah.

Kriteria ini—saleh dan salehah—, disadari atau tidak, terkadang terbangun dari sebuah subyektifitas kekaguman atau kecenderungan seseorang. Selain itu, adat, budaya, dan tradisi pun memengaruhi pola pikir semacam ini.

Definisi saleh/salehah terkadang lebur dari hal-hal yang sifatnya ibadah sosial (muamalah). Seperti misalnya sedekah, saling membantu, gotong-royong, toleransi, menjenguk orang sakit, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Bahkan, kepiawaian dalam berbisnis pun bisa masuk dalam kategori saleh. Sebab bagaimanapun juga, kuantitas fikih muamalah lebih besar porsinya dibanding dengan fikih ibadah. Bukankah Nabi Muhammad, sebelum diutus menjadi Rasul, dulunya merupakan reseller dari perusahaannya Khadijah?

Saleh/salehah harusnya dimaknai lebih luas lagi. Saleh adalah orang yang beramal baik, sekecil apapun itu kebaikan yang dilakukannya, maka ia sudah bisa disebut orang yang saleh. Saleh seharusnya dideskripsikan secara sederhana sebagai orang yang melakukan kebaikan, entah amal kebaikan itu kembali untuk dirinya sendiri dalam hubungannya dengan Allah (ritual-personal-individual), ataupun yang berkaitan dengan makhluk lain yang justru merambah kebaikan tersebut kepada selain dirinya. Bukankah seseorang bisa mendapatkan rahmat Allah, dengan hanya memberi makan pada seekor binatang yang sangat kelaparan dan hampir mati?

Al-Quran mendeskripsikan saleh dengan berbagai macam ayat. Bentuk kata sebagai pelaku (isim fa’il) yang berbentuk plural (jama’) disebutkan dalam dua bentuk, yaitu ash-shalihun sebanyak 3 kali dan ash-shalihin disebut sebanyak 23 kali. Sebenarnya kedua lafadh ini memiliki makna yang sama, yaitu orang-orang yang saleh. Yang membedakan adalah kedudukan kalimatnya dalam ilmu gramatika bahasa arab (nahwu). Yang pertama menempati posisi rafa’, yang kedua menempati posisi nashab atau jer.

Secara garis besar, dalam beberapa ayat tersebut menggambarkan siapa orang saleh itu dan bagaimana amalannya yang dapat dibagi menjadi empat bagian:
Pertama, orang saleh merupakan sifat yang dinisbatkan kepada para Nabi (Al-An’am: 85, Al-Anbiya’: 75 dan 86, Al-Ankabut: 27, As-Shaffat: 112).
Kedua, orang saleh dikategorikan sebagai pewaris bumi, seperti yang tertulis dalam kitab Zabur (Al-Anbiya’: 105). Yang dimaksud pewaris bumi di sini adalah yang layak menjadi pemimpin di muka bumi.
Ketiga, orang saleh adalah mereka yang beriman kepada Allah, hari kiamat, melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, serta bergegas dalam kebaikan. (Ali Imran: 39).
Keempat, orang saleh adalah mereka yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan. (Al-Ankabut: 9).

Kriteria ketiga dan keempat inilah yang merupakan esensi kebaikan (kesalehan), bahwa siapapun manusia yang beramal baik, pasti dia merupakan orang saleh. Saleh/salehah sudah seharusnya tidak dipersempit lagi maknanya, sementara Al-Quran berbicara lebih luas. Perintah beramal kebaikan selalu diulang berkali-kali di dalam Al-Quran, dan kebaikan itu sendiri tidak terbatas pada amal individual, namun lebih bersifat universal. Ada banyak ladang kebaikan di dunia yang seharusnya tidak dipangkas oleh kecenderungan subyektif manusia dalam memandang segala sesuatu. (*)

MN Ulya, Alumnus Perguruan Islam Mathali’ul Falah, Dosen STAI Khozinatul Ulum Blora

Tinggalkan komentar

Pojok PIM

FREE
VIEW