Puisi

Puisi-Puisi Norman Maulana

Bau Balsem Kala Subuh
: di musala

ayo mari kita berjamaah
lirik yang telah hafal di luar kepala
setelah azan subuh kumandangkan undangannya
tak ada langkah-langkah lugas di jalan
hanya ringkih yang menarik kerikil
kehabisan waktu tuk mengejar salat qabliyah

dominasi orang-orang penghabis masa
kemudian bersila menunggu iqamah
kebanyakan suara pesakitan dari pejuang itu
seraya bukan parfum non alkohol menyeruak
hanya balsem dan dengkur lelah para tetua
dalam zikir

yang ditanya?
di manakah langkah para lugas?
mewangi dalam baju-bajunya bersolek gagah atau cantik?
ditunggu tuk menyemarakan ambu dalam musala subuh hari

Pemalang, 2020

Suluk dari Kota Seribu Kubah

senandung sholawat kan ramaikan sore hari
kala mentari segera berpamit pada terang
diganti nyala terang masjid dan musala
di punggung bukit hingga muara lautan
merapal suluk tentang keesaan

menyinggung halus pencari dunia
atau penyandang angkara kemunafikan
hidup perlahan mematikan manusia
dalam mengenal cinta dan belas
sebagai pewaris sifat para iblis

paling tidak setelah itu kan banyak
kaki berjalan ke arah yang sama
pada ribuan kubah di kota ini
tuk ajaki menghamba kepada kuasa

Pemalang, 2020

Sengketa Manusia

roda kiranya bukan berputar seorang diri
untuk kehidupan orang tertentu
bukankah ia berkesinambungan?
dengan hidup-hidup orang lain
yang juga menyuarakan sengketa
katanya menghabiskan nyawanya
diludes semrawut urusan-urusan itu

roda itu bersama dengan yang lain
sengketamu, sengketanya sama
hanya tinggal merasa lebih atau tidak
menderita

Pemalang, 2020

Doa Setia dari Pak Tua di Musala

ya Allah berikanku dan keluargaku
keselamatan di dunia dan akherat
matikan aku dalam khusnul khotimah

ya Allah Gusti jangan biarkan anak-anakku
bertengkar karena hartaku jadikan
langgeng dan harmonis serta jauhkan
segala fitnah kepada mereka

ya Allah pertemukan dengan manusia agung
Kanjeng Nabi Muhammad SAW

(Ia bawakan setiap lima kali sehari jika ia ada)

Pemalang, 2020

Bermesra dengan Embun

kala angin menerpa fajar
singgung kulit dari raga terbangun
menyejuk bersamanya dalam renung
sehingga mendoa berbunga indah
dalam balutan wudhunya

menikmat embun pagi dan puji-pujian
yang mulai bersuara bersama suara katak
di persawahan subuh hari

Pemalang, 2020

Norman Maulana, dengan nama lengkap Nurmansyah Triagus Maulana Guru Bahasa Indonesia di SMP Muhammadiyah Terpadu Moga (MBS Moga) dan tutor PKBM Cempaka di Kab. Pemalang. Alumni Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP UNS Solo. Bergiat menulis di komunitas literasi “Rasi Pena” Juara 3 menulis cerpen di UPS Tegalberjudul “Nyanyian untuk Akeh”, Menulis Artikel Jurnal berjudul “Analisis Struktural dan Nilai Pendidikan Cerita Rakyat di Kabupaten Pemalang serta Relevansinya dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP,” di Jurnal Gramatika STKIP PGRI Sumatera Barat, Menulis puisi dalam buku antalogi “Tak Banyak Lagi Sepatu di Angkringan”, Menulis Cerpen “Pengemis Kaya” di Harian Pemalang, Pernah terbit Puisi di Radar Cirebon, Radar Tasikmalaya, Bangka Pos, dan Bali Post.

Tinggalkan komentar

Pojok PIM

FREE
VIEW