Puisi

Puisi-Puisi Firmansyah Evangelia


Ibu

Bila dadamu kerontang
Deraslah mata airku mengalir
Ke hilir dzikir jantungmu
Mengabadikan telaga rindu
Juga rentang nyalang kasih sayang yang kau piara

Seringkali, engkaulah perempuan
Yang meniup telinga dan ubun-ubunku dengan do’a
Pasrah menghela nafas panjang
Dari lengking sholawat yang kau baca
Sebagaimana menabur sekuntum bunga
Pada kekar lumbung dadaku yang kekal dalam sabar
Hingga, nazar serumpun jenawi
Membanat kelam teduh tawakkal masa silam

Barangkali, tancap zalim kerap kutangkas di matamu
Merintihkan sendawa resah
Meratakan gempur dosa, menyambangi hentak sakral sepanjang hayal
Tetapi kali ini, renungku bangkit kejantung langit
Kembali merundukkan tombak tobat di hamparan sajadah
Meluasi rival insaf tulang-tulang saraf
Sebab, sebagai anak aku sadar
Bahwa jannah ditelapak kakimu
Masihlah harap dahagaku

Annuqayah, 2020

Lora (Putra Kiai)

Nyalang matamu ialah kesucian sungai
Tempatku memeras keringat
Yang begitu deras mengucur
Hingga, serumpun kesaktian batu keluh
Sempurna membisu di belantara tubuh

Saban jejakmu, langkah tunggal takdzimku
Mengarungi laut tahajud dan istiqomah dicuram sujud
Sebab, barangkali dari doamu jua
Risalah lelah, membaringkan sebongkah resah di lumbung dada

Sejenak, aku ingin melangitkan saksi
Bahwa engkaulah seorang
Putra Kiai yang kuhormati

Annuqayah, 2020

Kasidah Santri

Takdzimku firman Tuhan
Ikrarku dedaunan iman
Sebagaimana musyafir
Yang terus menyusuri lorong-lorong segenap harap
Di ruas-ruas waktu begitu taji dalam diri

Puncak peradaban
Wejangan hakikat –tarikat manunggal Tuhan
Menyesaki gempur dosa
Dari serangkai cemas yang meranggas

Dzikir-dzikir mencipta tangis
Tombak tobat bersenjana di sajadah
Sebab, sungai kembar di mataku
Adalah ikhwal peradaban

Tetapi, kali ini aku embun
Kerap kali menenangkan rumput-rumput
Di bentang ladang luas hati para masyaikh

Annuqayah, 2020

Getar Sujud

Rajam tangis di sepertiga malam
Membangkitkan nalarku mengembara pada dunia lain
Menghentak-hentak dada, menguras habis tenaga
Megucurkan simbah keringat yang larat
Lalu, sembilu kuretas getar sujud
Pada wejangan-wejangan kitab suci

Mungkinkah, almanak kebenaran
Hanya tercipta di tanganmu, Tuhan?

Annuqayah, 2020

Baiti-Jannati

Rumahku adalah surgaku, Ibu
Bilamana gerutu dzikir-dzikir terus mengalun tampa henti
Gema ayat suci menggelegar
Mencipta debar daun-daun yang tertidur begitu pulas
Juga denyar dadaku yang kian runtuh di rempah kalbu

Rumahku adalah surgaku, Ibu
Manakala jujur terus menjulur
Kesabaran kerap mengakar
Ketabah menjalar ke ruas-ruas jiwa

Rumahku adalah surgaku, Ibu
Dengan kehendak Maha Tunggal
Maka, tanggal pulalah ridhamu dalam doaku

Rumahku adalah surgaku, Ibu
Sebab, dari gempur syahadat
Dan tirakat yang begitu dahsyat
Telah sempurna mendiami ruas pejam
Di dadaku yang berabad kelam pada insaf

Annuqayah, 2020

***

Firmansyah Evangelia, nama pena dari Andre Yansyah, lahir di pulau Giliyang, yang terkenal kadar Oksigennya setelah Yordania, 12 September 2002. Menyukai puisi dan teater sejak aktif di beberapa komunitas, di antaranya: PERSI (Penyisir Sastra Iksabad ), LSA (Lesehan Sastra Annuqayah), Ngaji puisi, Mangsen puisi, Sanggar kotemang, poar ikstida. Beberapa karyanya pernah di muat di : Radar Madura, Nusantara News, Majalah Sastra Simalaba, Tuban Jogja, Jejak Publisher, Majalah Sidogiri, Berita Baru.co, Radar Pagi, Travesia, Buletin Leluhur, Buletin Bindhara, Majalah Pentas, Potrey Prairey, Harian Pringadi, dll. Buku puisinya : Duri-duri bunga mawar (FAM publising 2019), Rubaiyat Rindu (Jendela Sastra Indonesia 2019). Bisa di hubungi lebih dekat di akun Fb: Andre Serizawa. Saat ini menjabat sebagai Ketua Literasi Pakar Sastra yang berpengaruh di komunitas PERSI (Penyisir Sastra Iksabad) periode 2019-2020

Tinggalkan komentar

Pojok PIM

FREE
VIEW