Puisi

Puisi-puisi Daviatul Umam

Puisi Daviatul Umam

Laut di Mata Bapak

Laut di mata Bapak tak lebih
dari hamburan kata-kata asin
berbusa-busa. Terngiang deru
sampan bagai badai yang berang,
siap meremukkan tulang-belulang.

Setiap laut kembali meneriakkan
janji, buru-buru Bapak mengunci
pintu dapur lalu meringkuk dalam
cangkang telur. Giat menuntut
keadilan kepada penegak sunyi,
supaya ikan-ikan yang beralamat
di langit diterjunkan langsung ke
kolam dadanya yang amat dangkal.

Sumenep, 2019

Bubur Ibu

Daunan masih mengemban
warna sawang. Telah kau
dulang tungku dengan tulang
punggung kita yang retak.

Matamu sumber gelora api,
menjilati pantat belanga dan
menambah tebal jelaganya.

Di dekat kakimu, kucing
tak sekadar mengeraskan
bulu-bulu. Ia lebih paham
membaca gelegak air, beras
yang perlahan melepuh, serta
asap yang terus membubung
ke lumbung, di mana bangkai
kepala-kepalaku diawetkan.

Remah luka sudah menyaru
bubur. Kau akan menjualnya
agar sakit sedikit terbayar.
Agar orang-orang kebagian
anyir yang tajam menguar.

Sumenep, 2019

Pusara Nenek

Jika bulan lusuh itu wajahmu,
apakah langkahku sebagai
matahari yang tak mampu
mengirim cahaya lagi?
Setidaknya akulah paling
terang kau pandang di
antara ilalang kering dan
pohon bidara yang terbakar.

Tak ada lagi jejak kaki-kaki
kambing di sini. Hujan mulai
melindungi gundukan tanahmu.
Rumputan manis akan bangkit
berbaris, merapal doa-doa dan
kilau embun menjadi aminnya.

Sumenep, 2019

Pagi dari Balik Jendela

Langit merenungi ladang.
Kemboja bertahan hijau
di pucuk kemarau. Ke mana
burung-burung membuang
lapar? Ke beranda ibu dan
anak mencari kenyang.

Dari sepotong tanganmu
aroma nasi pecel membual.
Membentuk gelembung
percakapan yang kelak
akan sangat kurindukan.

Apa yang perlu kubenci
dari dunia, ketika surya
dan gurat bibirmu sama
teriknya? Diam-diam aku
merenungimu. Bertahan
riang dalam gersang waktu.

Sumenep, 2019

Di Terminal Arya Wiraraja
: Aisyatul Azizah

Tak terhitung berapa ketuk
kerinduan terjawab, berapa
rintik kesedihan tertinggal.

Bukan tas atau dus yang
berat kau bawa. Melainkan
hari-hari kemarin yang padat
gurau-tawa.

Kusergap pipi lembap itu.
Pesing kota mencemari lubang
pernapasan. Aku tersedak
kemelut tahun silam, bahkan
rencana bulan depan yang
belum tentu tercapai.

Bus melarikanmu kencang.
Angin menggugurkanku kasar.
Perasaan beterbangan, me-
layang-layang, bersama asap
dan debu.

Sumenep, 2019

Daviatul Umam, lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa sekaligus mantan ketua umum Sanggar Andalas. Buku puisi pertamanya, Kampung Kekasih (Halaman Indonesia, 2019). Sementara ini tinggal dan bekerja di Ciomas, Bogor.

Tinggalkan komentar

Pojok PIM

FREE
VIEW