Cerpen

Penceramah Gulung Tikar

Cerpen Aljas Sahni H

Bukan hanya malam yang terselimuti kelam, istri penceramah itu pun kini dirundung resah dan gelisah. Bagaimana tidak, Ki Sadali seketika menghambur ke dalam bilik, menanggalkan surban dengan kesal, bahkan mulutnya tiada henti mengucap kata serapah. Perihal tak biasa itu membuat sang istri cemas. Perlahan ia mendekati Ki Sadali, mengusap-usap punggung lelaki itu, lantas bertanya dengan lembut, “Ahwal apa yang telah terjadi, Bang?”

“Sialan!” umpat Ki Sadali, membuat sang istri agak tersentak. Pertanyaan sang istri membuat lelaki itu kembali mengingat kejadian barusan. Kejadian yang membuat ia menanggung malu, seolah seluruh warga desa itu berduyun-duyun meludahi wajahnya. “Mulai hari ini, aku bukan lagi seorang penceramah.”

Kata itu, ciptakan debur ombak mengamuk di dada sang istri. Ia bergeming, tetiba beberapa pertanyaan mengisi kepala istri penceramah itu. Ia tak tahu mengapa suaminya mendadak mengucapkan kata itu. Ia juga tak tahu, perihal apa yang telah terjadi pada sang suami. Sedari tadi ia hanya menunggu kedatangan sang suami, dan ia pun mulai menyadari sesuatu akan terjadi, tatkala burung gagak dan burung pipit berkejaran hingga memasuki rumah.

Lantas, apa hubungan antara dua burung berkejaran dengan niatan ingin berhenti menjadi penceramah? Sang istri pun tak tahu. Yang ia tahu, jadi penceramah adalah cita-cita Ki Sadali sejak kecil. Ia kerap melihat senyum terukir di bibir sang suami, ketika selesai berceramah dari desa ke desa.

Ki Sadali cukup berbesar hati menjadi seorang penceramah. Sebab dengan begitu, ia dapat menularkan ilmu agama yang ia dapat kepada orang-orang. Apalagi, seperti yang seringkali ia ucapkan, ia sangat bahagia menjadi seorang penceramah. Dan tiada yang lebih membahagiakan buat sang istri, selain melihat sang suami bahagia.

Ki Sadali sempat bercerita pada istrinya, dahulu, ketika ia masih kecil dan memengaji di surau, ia pernah berteriak-teriak menceramahi seorang teman yang kepergok sholat isya tiga rakaat karena telat. Cerita itu membuat sang istri terpingkal-pingkal, kemudian berhenti demi kembali mendengar lanjutan cerita itu.

Dengan wajah bersahaja, Ki Sadali memandang lekat-lekat raut muka penasaran sang istri. Ia tak ingin membuat sang istri terlalu lama menunggu, sebab ia tahu, menunggu adalah rindu harapkan temu. Ia pun meneruskan cerita, seperti seorang pendongeng yang mendongengkan kisah sebelum tidur.

Sebab teriakan Si Kecil Sadali begitu nyaring, semua orang sekonyong-konyong beralih pandang padanya, termasuk guru mengaji dari kediaman imam. Semua jamaah menganggap ceramah Si Kecil Sadali adalah sebuah lelucon yang memang sering dilakukan oleh anak kecil, maka tertawalah para jamaah tak kalah nyaring. Hanya guru mengaji yang menyadari, bahwa ceramah itu adalah simbol benih yang mulai tumbuh.

Sadali adalah anak yang cerdas, dan kecintaan pada agama tak diragukan lagi. Mata Si Kecil Sadali lebih nyalang ketika memandang huruf hijaiah daripada huruf latin. Telinga Si Kecil Sadali akan lebih peka mendengar ilmu agama daripada ilmu-ilmu lain. Maka tak heran, apabila ia adalah anak paling cerdas soal agama daripada anak-anak sebayanya.

Guru mengaji di surau menganggap Si Kecil Sadali sebagai buah hati cahaya mata. Kala handai tolan selesai mengaji, menghabiskan waktu istirahat menunggu azan isya dengan bermain, Si Kecil Sadali masih diajarkan mengaji selama mungkin. Ia dapat ilmu agama lebih luas daripada handai tolan sepengajian. Bukan pilih kasih, kata si guru mengaji, tetapi penyamarataan karunia Tuhan.

Seakan-akan guru mengaji itu, ingin menularkan segala ilmu kepada Si Kecil Sadali. Sedang Si Kecil Sadali pun tak keberatan bila waktu bermainnya dihanguskan, diganti pelajaran hadis dan hafalan ayat kitabullah. Ia malah senang, kendati kadang mengiri pada teman yang menghabiskan masa kecil dengan tertawa terbahak-bahak, dan asyik masyuk dengan bermain. Sebab, dalam hati kecil Si Kecil Sadali, ia ingin menjadi seorang penceramah.

Pada umur dua belas tahun, Sadali memondok di pondok pesantren ternama. Satu hal yang ia lupa, bagai kacang lupa kulitnya, ia tak berpamitan pada guru mengaji, guru pertama yang mengajarkan anak itu tentang agama.

“Kau anak yang cerdas,” begitulah puji-pujian yang senantiasa menyerang Sadali hingga berbunga-bunga. Pujian itu kerap terlontar dari bibir-bibir ustaz di pesantren, tapi kadang juga dari temannya, atau bahkan dari pemilik warung makan di pesantren.

Di pondok itu pula, ia acap kali ikut dan memeriahkan lomba pidato. Ia sering menjuarai lomba-lomba pidato. Suara lembut Sadali, materi yang memikat, dan penampilan bersahaja, membuat ia kerap dapat tepuk tangan dan suara riuh rendah dari penonton. Siapa lagi kalau bukan Sadali yang ditunggu-tunggu oleh para juri dan handai tolan ketika mengikuti lomba yang kesekiankalinya.

Dan ketika Sadali telah keluar dari pesantren, bukan main orang-orang memperebutkan mengundang ia untuk mengisi ceramah di tempat masing-masing. Jadwal ceramahnya sangatlah padat, nyaris setiap hari ia harus ke sana kemari untuk menceramahi warga yang mengundang.

Dan seiring berjalannya waktu, nama Sadali pun ditambah Ki, menjadi Ki Sadali. Berawal dari orang-orang yang mengundang dan memanggil nama Ki Sadali, Sadali pun mulai terbiasa dengan tambahan Ki di depan namanya. Ia bahagia dengan karier penceramah yang kian melonjak, apalagi ketika ia mulai bertemu dengan tulang rusuk yang telah lama hilang. Ia amat sangat bahagia.

Ki Sadali menikah di umur dua puluh enam tahun berbanding lima tahun lebih tua dari istrinya. Tulang rusuk itu ia temukan di sebuah pesantren tempat ia sempat berceramah. Dan tentu, lamarannya disambut dengan lapang dada, mengingat ia adalah seorang penceramah tersohor.

Setelah menyempurnakan separuh agama dengan menikah, maka nama Ki Sadali semakin dikenal dari segala penjuru. Ia semakin banyak diundang orang, dan semakin gencar pula ia berceramah.

Dari uang hasil berceramah ia pun dapat membeli rumah, naik haji, dan hidup bahagia seperti hendak senang dunia akhirat. Ia telah mencapai cita-citanya menjadi seorang penceramah, ia juga dapatkan seorang istri cantik, tapi tetap saja ada perihal lupa yang tak sepantasnya ia lupakan, tentang guru mengaji, guru pertama yang senantiasa mengajarkan hal-hal dasar dalam agama.

Maka datanglah waktu mencekik, ketika tak ada seorang pun yang mengundang penceramah itu untuk berceramah. Kemasyuran seorang penceramah bernama Ki Sadali perlahan-lahan termakan oleh perkembangan zaman. Orang-orang kini lebih mencintai hal-hal yang berbau pragmatis, daripada mengundang penceramah dengan biaya mahal, alangkah lebih baik mendengarkan dan melihat penceramah berceramah di youtube dengan harga murah meriah.

Sebab tak punya bakat selain berceramah, Ki Sadali terpaksa menjual beberapa barang termasuk kendaraan berupa mobil untuk bertahan hidup. Ia sungguh santai, bahkan kopi tiap hari menemani hari-hari sepi. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan waktu itu, selain menggaruk-garuk tubuh merenungi nasib.

Dan sampai penderitaan tanpa pengundang untuk berceramah satu pun, ia masih lupa pada guru pertamanya. Ya, selain kesenangan yang berlebihan, penderitaan yang berlebihan pun membuat orang kerap melupa. Ia tak pernah berpikir tentang guru mengaji. Ia tak sempat berpikir, kenapa sampai kini pun ia belum jua mengunjungi untuk sekadar bilang apa kabar pada guru pertamanya itu.

Di tengah-tengah ia mulai putus asa menjadi seorang penceramah lagi. Di tengah-tengah ia mulai berpikir, Tuhan sengaja mengangkat ia setinggi mungkin untuk dijatuhkan begitu saja. Seorang lelaki separuh baya dengan motor buntut datang bertamu ke rumahnya. Kedatangan lelaki itu ke rumah Ki Sadali, tak lain adalah untuk mengundang seorang penceramah yang nyaris putus asa itu untuk berceramah lagi.

Bagai tanah gersang yang ditanami bunga-bunga, hati Ki Sadali senang bukan kepalang. Bagaimana tidak, setelah sekian lama tak ada sang pengundang, sekarang seseorang datang begitu saja seperti sengaja dikirimkan Tuhan dari langit sebagai pengobat lara. Aku akan berceramah lagi! Aku akan berceramah lagi! batinnya berteriak girang.

Ia diundang sebagai penceramah untuk menutup acara imtihan. Ia disambut dengan baik oleh lelaki pengundang, yang tak lain adalah seorang kepala yayasan. Ia dihidangkan beraneka buah, seperti seekor sapi yang diberi makan sebelum menggarap sawah.

Ia menunggu detik demi detik hingga tiba waktunya untuk berceramah. Bila ia melihat orang-orang sungguh gegap gempita, mereka seperti sedang menunggu Ki Sadali untuk berceramah.

Beberapa anak yang tak lain murid-murid yayasan menari dengan kenes, bernyanyi dengan merdu, bahkan baca puisi dengan berapi-api di atas panggung. Penampilan demi penampilan pun berlalu, diakhiri oleh tepuk tangan dan teriakan riuh rendah para penonton yang tak lain adalah warga desa itu dan orang tua anak yang tampil di atas panggung.

Datanglah waktu di mana Ki Sadali kembali menaiki panggung, ia akan kembali berceramah setelah sekian lama. Tapi ada yang lebih memilukan daripada tidak berceramah, yakni berceramah namun hanya ditonton oleh dua orang, sang pengundang dan istrinya.

Hati Ki Sadali terasa ditusuk-tusuk belati. Ke mana keramaian orang tadi? Kenapa hanya tinggal dua orang? Apakah sebenarnya mereka hanya ingin menonton anak mereka, bukan seorang penceramah? Barangkali, kepedihan sesungguhnya baru datang malam ini, bisik hati kecil Ki Sadali.

Ki Sadali tetap berceramah meski hanya didengarkan dua orang saja, sebab ia telah diundang dan ia telah dibayar. Namun, mata Ki Sadali tak lepas dari wajah dua orang penonton yang sepertinya terpaksa mendengar ceramahnya. Si pengundang terlihat menguap berulang kali karena mengantuk, entah karena memang lelah atau karena ceramah Ki Sadali. Sedang si istri pengundang tampak bermuka masai, barangkali sebab tak tahan berlama-lama mendengarkan ceramah Ki Sadali.

Seketika di atas panggung, hujan air mata membasahi pipi Ki Sadali. Ia terisak-isak, sebab kala itu wajah sang guru mengaji tetiba muncul di kepalanya. Ia merasa bersalah, sebab tak pamit ketika berangkat ke pondok pesantren, dan tak mengunjunginya sama sekali hingga kini. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Ki Sadali bergegas turun panggung dan secepat mungkin menuju guru pertamanya itu, tanpa pamit kepada sang pengundang dan istrinya.

Ki pengundang mengira, Ki Sadali menangis sebab malu tidak ada yang menonton. Maka, ia biarkan Ki Sadali pergi begitu saja. Sebab selain kasihan, si pengundang juga tak kuat menahan kantuk.

Dan sungguh malanglah Ki Sadali, ketika sampai di rumah guru mengajinya, hanya kabar nisan guru pertamanyalah yang ia dapat. betapa remuk redam sanubari Ki Sadali mendengar kabar itu. Di malam kelam itu, ia pun pulang setelah sekian lama membisu dan mematung di depan makam gurunya.

“Lantas, apa yang hendak kau lakukan selanjutnya?” tanya sang istri hati-hati. Ia takut menyinggung perasaan sang suami. Tapi di satu sisi, ia tahu, Ki Sadali hanya punya bakat ceramah.

“Aku akan menceramahi diriku sendiri.” (*)

Aljas Sahni H, lahir di Sumenep, Madura. Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta. Anggota literasi IYAKA. Serta salah satu pendiri Sanggar Becak.

Tinggalkan komentar

Pojok PIM

FREE
VIEW