ArtikelRekomendasi

Mustakhrijin dan Mustakhrijat

Oleh KH. MA. Sahal Mahfudh

Sebagai alumni PIM yang telah dididik oleh PIM dan telah mengambil ilmu dari PIM, tentu saja tidak akan terkejut menghadapi dunia di luar PIM yang lebih jauh dan lebih luas lagi. Tiadanya keterkejutan ini sangat penting artinya agar kalian tidak akan kehilangan dirinya sendiri. Karena orang sering mengubah dirinya secara drastis diakibatkan oleh adanya “keterkejutan”, karena kebetulan belum siap mental di dalam melangkah kaki dari satu posisi ke posisi lain yang jauh berbeda. Karena yang baru dilihat sama sekali lain dan mungkin dianggap lebih realistis, ia lalu terkejut; seolah-olah apa yang pernah ia alami bagaikan impian belaka, dan ia sekarang telah bangun menghadapi kenyataan yang sebenarnya. Akhirnya secepat itu ia mengubah dirinya, melupakan dirinya sendiri, membuang jauh apa yang ia anggap impian itu dan kemudian mengganti dengan apa yang disebut rasional atau realistis.

Perguruan Islam Mathali’ul Falah sesuai dengan status dan tingkatannya, telah memberikan bimbingan sikap, pendidikan dan pengetahuan dasar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai PIM, yakni; “Menyiapkan kader muslim yang AKROM dan SHOLIH.” Yang dimaksud akrom ialah yang paling takwa kepada Allah sedang arti sholih ialah yang mampu mewarisi dan mengatur bumi ini dengan segala alam yang ada padanya, atau dengan kata lain; yang mampu menguasai segala aspek kehidupan di masa kini dan di masa yang akan datang.

Pendidikan dan pengetahuan dasar itu diharapkan mampu mendasari secara fundamental untuk pijakan kalian ketika mau melangkah lebih jauh di dalam menuntut pendidikan dan ilmu yang cukup menjadi bekal menjadi manusia akrom dan sholih. Dari sini kalian harus sadar dan akan terus sadar, bahwa yang akan kalian tuntut itu merupakan mata-rantai yang tak terpisahkan dari sekian mata-rantai dasar yang telah kalian miliki dari PIM ini. Sadar pula bahwa tanpa dasar pijakan itu kalian tak mungkin mencapai mata-rantai lanjutan itu dengan sukses. Dengan kesadaran itu kalian tetap respek terhadap PIM dan selalu merasa punya ikatan moral dengan PIM di mana dan kapan saja kalian berada dan akan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai PIM pula.

Untuk menjadi manusia yang lebih takwa yang disebut “akrom” bagi Allah sekarang ini amat sulit. Banyak tantangan dihadapi. Banyak hal yang melawan dan bahkan menyeret jauh dari unsur ketakwaan di mana manusia akhirnya dikhawatirkan jadi asing dari Allah. Coba kalian berfikir sejenak menilai keadaan sekarang. Di sekeliling kita ini ada semacam proses mematerialkan segala hal. Orang hanya akan dinilai dari sudut pandang materi. Dia merasa bukan orang bila tidak punya materi.

Kebahagiaan atau kesejahteraan, tolok ukurannya juga dengan materi. Hampir semua hal menggunakan tata-nilai materialis. Orang yang berpendidikan tinggi belum tentu dihormati bila tidak punya materi. Orang yang berakhlak tinggi pun sering tidak mendapat nilai objektif karena ia tidak punya materi. Proses mematerialkan segala hal ini akhirnya akan mengakibatkan orang menjadi asing pada dirinya sendiri dan selanjutnya asing pada yang menciptakannya yaitu Allah. Ini adalah tantangan hebat terhadap proses pentakwaaan manusia.

Sedangkan proses pentakwaan itu sendiri tidak cukup hanya dilakukan oleh suatu lembaga, tetapi lingkungan sekelilingnya pun turut mempengaruhi keberhasilannya. Di sinilah pentingnya orang harus memiliki dasar-dasar ketakwaan yang cukup kuat yang mampu menahan segala pengaruh lingkungan yang bertentangan karena sudah serba materialistis itu. Dalam hal ini, PIM telah meletakkan dasar-dasar itu pada diri kalian. Tinggal bagaimana kalian menggunakan dasar itu dan sejauh mana kalian mengembangkannya, hal itu akan menentukan jadi atau tidaknya kalian sebagai manusia “akrom” bagi Allah.

Juga, dasar-dasar untuk mendasari kalian melangkah ketitik kesholihan untuk menjadi manusia sholih yang berarti pula harus mampu menguasai segala aspek kehidupan ini, telah pula diletakkan oleh PIM pada diri kalian. Pengembangannya terserah kepada kalian sendiri. Tetapi yang sangat penting untuk selalu diingat dan direnungkan, ialah harus adanya “keseimbangan wajar” antara ketakwaan dan kesholihan dimaksud. Ketimpangan antara keduanya akan mengakibatkan ketidaktenangan atau ketidakpuasan pada diri kalian yang pada gilirannya akan menimbulkan ketegangan-ketegangan yang berarti gagalnya kalian mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat—sa’adatud darain. Ketakwaan saja tanpa dibarengi penguasaan aspek kehidupan akan menimbulkan penyudutan diri dari pergaulan ramai dan hubungan manusiawi di mana hal ini pasti akan menimbulkan ketidaktenangan bagi manusia biasa. Tetapi penguasaan aspek kehidupan tanpa ketakwaan akan mengakibatkan “ketidakpuasan” melulu, karena penguasaan aspek kehidupan itu mempunyai suatu dampak yang bersifat materialis sedang sesuatu yang materialis itu selamanya tidak mau berhenti pada titik kepuasan tertentu. Ketidakpuasan ini akhirnya akan menyeret orang ke lembah ketamakan materi yang terus berkembang hingga akibatnya menjerumuskan ke dalam jurang kemurkaan.

Dari sinilah dapat disadari pentingnya keseimbangan. Dengan keseimbangan orang akan mampu menguasai dirinya yang pada gilirannya orang akan mampu menempatkan dirinya pada posisi yang wajar dan mampu tertahan hidup di tengah-tengah gelombang kemajuan dengan tenang dan tenteram.

Maka oleh karenanya, dasar-dasar ketakwaan dan keshalihan yang telah kalian peroleh dari PIM hendaknya terus kalian kembangkan sejauh kemampuan kalian demi mencapai keseimbangan tersebut. Dalam hal ini, kalian harus melihat jauh ke depan secara sadar dan melihat masalah-masalah yang akan kalian hadapi. Hal ini sangat perlu dalam rangka penerapan sikap kalian nanti di tengah-tengah masyarakat, sehingga dengan penerapan yang tepat itu kalian akan mampu mempengaruhi pendapat umum untuk suatu tujuan di mana kalian nanti berperan dan berperanan. Dalam hal penerapan sesuatu untuk bisa mempengaruhi pendapat umum, di samping diperlukan adanya modal pengetahuan perlu adanya ketrampilan diri kalian di dalam menjawab empat pertanyaan yang sering telah kami kemukakan kepada para alumni sejak beberapa tahun yang lalu, yaitu;

Apa dan siapa saya ini?
Di mana dan kapan saya ini berada?

Akhirnya kami berharap semoga ilmu yang telah kalian peroleh dari PIM dapat bermanfaat dan berkembang baik dan semoga kalian tidak akan melupakan PIM sebagai almamater yang harus kalian ingat dan junjung tinggi. Amien….

Kajen, 22 Februari 1982

Tinggalkan komentar

Pojok PIM

FREE
VIEW