HikmahRekomendasi

Mahar Nabi Adam kepada Siti Hawa

Oleh Muhammad Hilal Zain

Dikisahkan oleh Al Imam Abi Ishaq Ahmad bin Muhammad bin Ibrohim Ats-Tsa’labi dalam kitabnya قصص الأنبيأ المسمى بعرائس المجلس bahwa;

Ketika Nabi Adam alaihissalam turun dari mimbar lalu beliau duduk sejenak di antara para malaikat, seketika itu Allah Swt. menidurkan Nabi Adam untuk sekadar merefreshkan kembali badan beliau yang telah lama letih. Dan dalam tidurnya, Nabi Adam bermimpi melihat calon istrinya, Siti Hawa—padahal kejadian itu berlangsung sebelum ada dan diciptakannya Siti Hawa.

Masih dalam mimpi dan istirahatnya, Nabi Adam alaihissalam merasa ada gejolak cinta yang tumbuh di dalam hatinya. Seketika, Allah Swt. langsung menciptakan Siti Hawa dari tulang rusuk kirinya. Tidak sampai di situ, Allah Swt. yang memiliki sifat Jamaliyah pun akhirnya mempercantik dan memperindah paras dari wajah Siti Hawa hingga melebihi cantik dan eloknya 1000 bidadari surga. Bahkan, Siti Hawa dan keturunannya nanti menjadi salah satu hiasan surga karena kecantikannya.

Siti Hawa diciptakan oleh Allah Swt. memiliki 700 ikatan pada rambut mulianya dan beliau juga memiliki tinggi yang sama persis seperti suaminya, Nabi Adam. Di samping itu, Allah Swt. juga memberikannya perhiasan dan gelang yang mengkilap dan terang melebihi cahaya sinar matahari.

Tak berlangsung lama, setelah itu Nabi Adam pun akhirnya terbangun dari mimpi indahnya. Namun lagi-lagi ia terheran dan dikejutkan dengan adanya Siti Hawa di sampingnya. Rasa kagum akan kecantikan Siti Hawa pun akhirnya membuat beliau jatuh cinta kepadanya.

Di saat syahwat sudah mulai menyerbu Nabi Adam, Allah Swt. berfirman; “Jangan kamu lakukan sehingga kamu datangkan mahar untuknya.”

Nabi Adam bertanya; “Tuhanku, apa mahar untuk meminangnya?”

Allah Swt. menjawab; “Bacalah sholawat kepada Nabiku dan kekasihku Muhammad Saw.”

Dan dengan rasa penasaran, Nabi Adam pun kembali bertanya kepada Allah Swt.; “Siapakah Muhammad itu?”

Lantas Allah Swt. berfirman;

“ انه من أولادك وهو آخر الأنبياء و لو لاه ما خلقت خلقا”

“Dia adalah keturunan anak cucumu, dan dialah penutup para nabi. Jika tidak karena Muhammad, niscaya Aku tak akan pernah menciptakan semua makhluk.”

Sedang di dalam kitab الأنوار النعمانية disebutkan bahwa mahar Nabi Adam untuk meminang Siti Hawa adalah membaca sholawat 10 kali untuk Nabi Muhammad Saw.

Dan yang menarik untuk dijadikan catatan bersama dari cerita di atas ialah;

1) Sholawat kepada Nabi Muhammad Saw. ternyata sudah sejak jauh hari dilakukan oleh Nabi Adam sebelum datangnya agama Islam dan umat Islam memanjatkannya.

2) Pengukuhan akan kenabian Nabi Muhammad Saw. sudah ada di saat awal mula peradaban manusia, bahkan Allah Swt. secara langsung mendikte pentakriran (peneguhan kebenaran-Red.) ini kepada Nabi Adam tanpa melalui perantara.

Dari kedua catatan tersebut, salah satu dilalah iltizamiyahnya (sesuatu yang bisa dicerna) adalah sudah adanya syahadatain sejak zaman Nabiyullah Adam. Walaupun secara de facto, syahadatain dimulai sejak diangkatnya Nabi Muhammad Saw. menjadi Nabi pada saat periode Tahun Gajah, namun secara de jure, syahadatain sudah ada sejak lama sebelum itu. (*)

Muhammad Hilal Zain, alumnus PIM tahun 2013, mahasiswa Pascasarjana Jurusan Perbandingan Tafsir Al-Musthofa International University Esfahan Iran.

Pojok PIM

FREE
VIEW