Cerpen

Kucing-Kucing Mengepung Ka’bah


Cerpen Edy Firmansyah

“Jadi di bawah sana, Kakek ditemani kucing-kucing, Ibu?” Larawati mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaan putrinya. Kuburan bapaknya, entah mengapa, selalu dipenuhi kucing-kucing liar. Mereka leyeh-leyeh di atas pusara. Seperti sore ini, saat Larawati dan anaknya nyekar, kucing-kucing itu masih ada di sana. Di kuburan bapaknya. Puluhan. Berwarna-warni. Jantan dan betina. Bagai menguasai sebuah koloni.

“Sejak kapan Kakek mencintai kucing, Ibu?”

“Sejak pulang dari Mekah.” Larawati membelai rambut anak perempuan semata wayangnya itu. Memang sejak pulang dari ibadah umroh, Ladrak, bapak Larawati mendadak memelihara kucing. Meski menggunakan kursi roda sepanjang sisa usianya itu, hampir semua kucing liar di kampungnya diberinya makan. Karena itulah ke mana-mana, Ladrak selalu diikuti kucing. Termasuk saat sembahyang ke surau. Tapi hanya satu kucing yang ikut masuk ke dalam surau menemani Ladrak. Seekor kucing hitam. Orang-orang kampung mahfum dengan itu dan tak pernah mengusirnya.

“Mengapa Kakek mencintai kucing, Ibu?”

“Panjang ceritanya, Anakku.”

“Ceritakan padaku, Ibu. Aku juga ingin mencintai kucing seperti Kakek.” Larawati kemudian duduk bersila dan meminta anaknya duduk di pangkuannya. Tepat di depan pusara. Kemudian ia bercerita tentang Ladrak.


Tiba-tiba saja rumah Ladrak menjadi gempar. Pocu, burung lovebird yang kemarin dinyatakan sebagai pemenang gantangan tingkat nasional dengan hadiah umroh, ditemukan mati. Sangkarnya rusak. Bulu-bulu Pocu berserakan di dapur. Di samping burung naas itu berdiri seekor kucing berbulu emas yang kemudian bergegas lari begitu Ladrak tiba. Kontan saja Ladrak berteriak meraung-raung.

Teriakan Ladrak yang mirip ban pecah membuat para tetangga datang dan berusaha menenangkan Ladrak. Tampak wajah-wajah muram berbelasungkawa. Sebagian besar dari mereka menyesali kejadian itu.

“Sayang sekali. Coba kemarin waktu ada yang menawar lima belas juta langsung diberikan, pasti tak begini nasibnya,” bisik Penno pada Giyo yang berdiri paling belakang di kerumunan itu. Tapi rupanya Penno berbisik terlalu keras.

Orang-orang segera menoleh ke arah Penno dengan tatapan terpana sekaligus jengkel. Tanpa terkecuali Ladrak yang tengah berduka.

“Ditawar berapa pun tetap tak akan kujual. Sebab telah merawatnya seperti anak sendiri,” Ladrak berucap dengan nada marah sambil menatap Penno penuh amarah. Penno tentu saja ciut nyalinya lantas pelan-pelan ngeloyor pergi.

Kejadian ini bukan kali pertama dialami Ladrak. Enam bulan lalu Ladrak harus juga mengikhlaskan jalak balinya lepas dari sangkarnya karena sangkarnya dirusak kucing. Padahal ia baru membeli burung itu di pasar dengan harga lima ratus ribu rupiah. Di kampung Ladrak memang banyak kucing. Kucing kampung. Mereka liar dan suka menjarah lauk ke rumah-rumah penduduk. Namun kejadian kali ini yang paling parah. Pocu bersimbah darah. Kucing itu mencabuti bulu-bulu Pocu yang berwarna hijau merah itu. Kemudian menyiksanya hingga mati. Ya, disiksa. Bukan dimakan.

Padahal Pocu adalah burung kesayangan Ladrak. Lovebird itu pemberian sahabatnya yang seorang ahli burung. Sebulan setelah memberi lovebird itu sahabatnya meninggal. Ladrak merawat Pocu sejak usianya 4 bulan. Saat pertama kali diikutkan gantangan lokal, Pocu menunjukkan keistimewaannya. Ngekeknya yang panjang. Ngekek atau kicauan Pocu rata-rata berdurasi 60 detik. Bahkan pada salah satu event gantangan yang baru saja diikuti dan mendapatkan hadiah umroh itu, Pocu berkicau dengan durasi 100 detik. Irama suaranya juga indah. Naik, turun, naik, pelan, keras. Keras, landau, turun, keras dan diulang-ulang tanpa jeda. Benar-benar kicauan juara. Durasi ngekeknya yang panjang mengingatkan pada lovebird legendaris bernama Kusumo, Lovebird milik H. Sigit Marwanto.

Soal perawatan sebenarnya tak ada yang istimewa. Ladrak hanya rajin memberikan vitamin dan nutrisi yang ia beli di pasar burung. Satu-satunya rahasia yang tak pernah diketahui orang bahwa tiap bulan purnama Pocu selalu dimandikan dengan air kembang tujuh rupa yang dibubuhi doa-doa.

Tapi kini burung itu mati. Dan Ladrak hanya bisa meraung-raung menyesali apa yang telah terjadi. Yang membuat para tetangga berkerumun di dapur menenangkan Ladrak lalu satu persatu pulang setelah Ladrak bisa menenangkan diri. Kini Ladrak memang telah tenang. Tapi hatinya dendam pada kucing.


Matahari terus lingsir, langit berangsur bersalin warna serupa kuning telur mata sapi. Cahayanya yang menyilaukan berpendar-pendar membiaskan warnanya ke seantero desa. Kata orang kampung, suasana begini disebut senja sakit. Hari penuh malapetaka dan penyakit. Pantang bagi orang berkeliaran di jalan sampai Maghrib habis. Harus mendekam dalam rumah.

Tapi Ladrak tengah mengendap-endap keluar dari pintu depan menuju pintu belakang rumahnya yang terhubung dengan dapur. Ia sengaja meletakkan nasi sisa di dapur agar dimakan kucing. Syukur-syukur kucing berbulu emas yang telah membuatnya sedih tak terhingga. Benar saja. Seekor kucing hitam tengah makan dengan lahap dan tak merasa Ladrak telah menutup pintu dapur dan meraih sapu di balik pintu.

Dan, buk! Ladrak menendang kucing hitam itu tepat di perutnya. Ia terpelanting hingga tubuhnya membentur kaki lincak. Merasa dirinya sedang dalam bahaya kucing itu mencoba menyelamatkan diri dengan berlari ke kolong lincak. Tapi terlambat, sebuah pukulan dari gagang sapu mendarat di kepalanya. Kucing hitam itu terhuyung-huyung. Ladrak puas? Belum. Ia memburu kucing itu dan mendaratkan pukulan sapunya sekali lagi. Kali ini tepat di punggungnya. Kucing itu terpelanting hingga membentur dinding dapur. Napasnya terengah-engah dan jalannya sempoyongan. Mulutnya sedikit mengeluarkan darah.

Ladrak kemudian menarik ekor kucing itu dan menyeretnya hingga pintu dapur. Ia membuka pintu dan melemparkan kucing itu hingga tubuhnya membentur pagar. Kucing itu berjalan sempoyongan menjauh dari rumah Ladrak. Setelah melakukan semua tindakan keji itu ia ke dapur. Mengambil air dan menenggaknya hingga tandas. Napas masih memburu. Amarah masih bertalu talu di kepala.

“Mati, mati kau sekarang!” pekik Ladrak.

Adzan Maghrib menggema. Senja melipat dirinya ke dalam malam. Ladrak melipat dirinya dalam sepi yang panjang.


Ini kali pertama Ladrak datang ke tanah suci. Berkat Pocu memenangkan gantangan nasional yang hadiahnya umroh. Perjalanan dari Indonesia ke Jeddah dalam lambung Saudi Arabia Airlines lancar. Ladrak terpesona dengan gemerlap lampu Mekkah. Gedung-gedung pencakar langit dan rumah-rumah ibadah yang megah. Dan pusaran orang di Ka’bah. Pusaran orang-orang seluruh dunia melakukan ibadah. Begitu ritmis. Begitu indah.

Tapi ada yang aneh dalam perasaan Ladrak sejak pertama kali menginjakkan kakinya di tanah suci. Ia merasa ada yang mengikuti tiap langkahnya. Bukan, bukan orang. Tapi kucing. Ketika menginjakkan kakinya pertama kali di Mekkah di bandara, pada pintu keluar ia melihat kucing berwarna emas menatapnya dengan ganas. Ketika pertama kali masuk hotel dan membuka gorden, ia melihat seekor kucing hitam bertengger di jendela hotel. Menatapnya tajam. Serupa mata iblis yang penuh dendam. Ladrak nyaris terjerembab jatuh ke lantai karena terkejut.

“Loh, ada apa, Kang Ladrak kok seperti melihat setan? Istighfar, Kang,” ujar teman sekamarnya.

“Aku tadi melihat kucing di jendela itu,” jari Ladrak menunjuk ke jendela.

“Kucing? Di lantai 10 sebuah hotel? Kang Ladrak mungkin mengantuk. Istirahat, Kang. Simpan tenaga Kang Ladrak. Besok kita akan tawaf. Banyak istighfar. Hapus dosa masa silam,” kata teman sekamarnya memberi semangat.

Mengantuk? Dosa? Batin Ladrak penuh tanya. Tapi ia merasa saran teman sekamarnya ada benar juga. Ia kemudian menghempaskan tubuhnya ke ranjang hotel dan terlelap.

Pada putaran pertama tawaf, Ladrak melihat tiga ekor kucing menatapnya. Seekor putih. Dua ekor lagi hitam. Seolah menunggui Ladrak ibadah. Kucing-kucing itu terus menggeram. Bukan mengeong. Seolah marah seperti harimau lapar. Mereka menggeram memperlihatkan taring-taringnya yang tajam. Mula-mula Ladrak merasa kucing-kucing itu kucing iblis. Maka Ladrak mempercepat langkah tawafnya dan memperbanyak membaca doa. Namun pada putaran kedua dan ketiga ia melihat kucing-kucing itu makin bertambah banyak. Puluhan. Ya, puluhan kucing. Semuanya menatap Ladrak dengan mata penuh dendam. Memperlihatkan taring-taringnya yang runcing dan berkilat-kilat serupa mata pisau usai diasah. Dan kucing-kucing berjalan bersama mendekat ke arahnya.

Pada putaran keempat dan kelima Ladrak mencoba menggunakan sorbannya untuk mengusir kucing-kucing itu yang kelihatannya makin bertambah banyak seolah-olah mengepung Ka’bah. Bukannya takut, kucing-kucing itu malah menyeringai. Mendadak tiga kucing pertama yang seekor putih dan dua ekor hitam menerjang ke arah Ladrak. Berusaha merobek jubah Ladrak. Ladrak menggunakan kakinya untuk mengusir kucing-kucing itu sambil terus berusaha menyelesaikan ibadahnya. Kucing-kucing itu terus menggeram, mengeong, menggeram, mengeong berganti-gantian. Seolah-olah memanggil teman-temannya.

Mendadak, puluhan, atau mungkin ratusan kucing-kucing dengan berbagai warna dan berbagai jenis itu menerjang bersamaan ke tubuh Ladrak dan membuat Ladrak terhuyung-huyung dan jatuh menelungkup. Mereka mencakar-cakar tubuh Ladrak. Ladrak hanya bisa beringsut mundur sambil berteriak meraung-raung meminta tolong. Tapi orang-orang seolah tak mendengar jeritan Ladrak. Mereka terus saja beribadah seolah tak terjadi apa-apa. Padahal ratusan kucing telah menyerbu Ka’bah seperti ratusan tentara gajah memasuki Mekkah.

Ladrak merasakan sekujur tubuhnya perih. Darah menetes dari lengannya. Dan kucing-kucing itu tak berhenti menyerbu. Bahkan beberapa telah berhasil menaiki Ka’bah kemudian melompat bersama-sama menerjang Ladrak yang terus mengesot di lantai Ka’bah berusaha menyelamatkan diri.

Suara-suara raungan Ladrak dan mungkin ngeong ratusan kucing menyerbu Ka’bah telah membangunkan seseorang, teman sekamar Ladrak. Ia mendapati Ladrak jatuh ke lantai hotel dengan kepala berdarah dan tengah pingsan. Kontan saja hotel tempat Ladrak menginap mendadak gempar. Kamar hotel Ladrak dipenuhi petugas kesehatan dan kepolisian Saudi. Ladrak diangkut ke ambulan. Saat digotong, Ladrak berkali-kali mengigau: “Kucing-kucing itu menyerbu Ka’bah. Allah! Allah! Ampuni aku.”


”Apakah Kakek akan masuk surga, Ibu?” Larawati terdiam mendengar pertanyaan anaknya. Kompleks pemakaman mulai temaram. Ia menatap kucing-kucing yang masih berkumpul di pusara bapaknya. Masjid-masjid mulai mengumandangkan shalawat tarhim sebagai tanda waktu menjelang Maghrib.

“Ibu tak tahu, Anakku.”

“Aku ingin masuk surga, Ibu. Tinggal bersama kucing-kucing. Seperti Kakek.” Larawati memeluk anaknya. Erat sekali. (*)

Edy Firmansyah

Edy Firmansyah, Pemimpin umum Komunitas Gemar Baca (KGB) Manifesco, Pamekasan. Kumpulan cerpennya yang pernah terbit adalah “Selaput Dara Lastri” (IBC, Oktober 2010). Buku puisinya yang telah terbit adalah “Ciuman Pertama” (Gardu, 2012) dan “Derap Sepatu Hujan” (IBC, 2011). Pernah menjadi jurnalis Jawa Pos. Artikel, Cerpen dan puisinya tersebar di banyak media cetak maupun online, di antaranya; KOMPAS, JAWA POS, MEDIA INDONESIA, SUARA KARYA, PELITA, HARIAN SEPUTAR INDONESIA, KORAN JAKARTA, SURYA, RADAR SURABAYA, SURABAYA POST, BALI POST, BANJARMASIN POST, DETIK.com, KOMPAS.com, CENDANANEWS.com, POJOKPIM.com, STORY MAGAZINE, Majalah SURAMADU, dan Majalah ANNIDA. Bisa dihubungi via twitter: @semut_nungging

Tinggalkan komentar

Pojok PIM

FREE
VIEW