Cerpen

Tekadku Setinggi Angkasa

Oleh ‘Aunaa Nouri

Aku Mahendra, satu-satunya darah daging seseorang yang hebat. Mungkin biasa saja bagimu, namun dia hebat menurutku. Dia sumber inspirasiku, yang mampu membalikkan hati sekeras batu hingga membuatku terpaku. Dulu aku sangat membencinya, hingga lambat laun dia mengetuk hatiku untuk merasakan hebatnya. Oke, biar aku ceritakan sedikit sejarah hidupnya.

Dia seorang pekerja keras. Tak peduli seberapa sulit keadaannya, caci maki orang di sekitarnya, bahkan keluarganya. Dia selalu menghadapi permasalahan dengan berusaha ala kadarnya. Bisa dibilang fisiknya tidak genap, namun mental dan tekadnya tak pernah ganjil.

Dia lahir di tengah keluarga yang mengucilkannya—kecewa akan kehadirannya. Bahkan sejak dia berusia lima tahun, ia ditinggal ibunya di tengah hutan di pelosok desa yang tak berpenghuni. Hingga ada lelaki yang sedang berburu menemukannya sedang menangis sesenggukan di bawah pohon rindang. Tanpa ragu, lelaki itu membawanya pulang. Istrinya menyambut dengan binar bahagia, karena harapannya sekian lama menjadi nyata. Melihat kesempatan ini, Rohman dan Asiyah menganggapnya anak. Berbekal kehidupan yang sederhana, mereka mengasuhnya dengan sabar dan ikhlas. Mereka mendidiknya secara diam-diam, menyembunyikan keberadaannya dari orang-orang yang mungkin bisa menyebar pikiran-pikiran negatif mengenainya. Bukan maksud mereka malu membesarkan anak cacat sepertinya, namun Rohman tak ingin masa depan anaknya terusik dengan berbagai ucapan orang-orang yang membuatnya berkecil hati.

Pada kesunyian malam, keributan terjadi di rumah Rohman dan Asiyah. Dua perampok berhasil menyusup mengambil barang-barang antik yang mereka punya. Saat ketahuan pemiliknya, salah satu perampok melayangkan pisau yang tertancap tepat di dada Asiyah. Sedangkan perampok satunya menembak Rohman tepat mengenai kepalanya. Pemuda cacat yang menyaksikan di balik pintu kamarnya memekik ketakutan. Sebenarnya ia ingin menyalamatkan, tapi ia sudah berjanji tidak akan keluar kamar jika ada orang lain selain orangtuanya.

Setelah perampok itu pergi ia berteriak meminta pertolongan, tak peduli lagi pada janjinya, yang terpenting saat itu orang tuanya. Para warga berdatangan saat kedua orang di hadapannya sudah tiada. Tak jauh darinya, tampak remaja cacat yang tadi berteriak meminta pertolongan. Salah satu warga mencurigai dia yang membunuhnya. Pasalnya, para warga memang baru kali ini melihatnya. Saat orang yang ditatap tajam itu merasa aneh dengan tatapan para warga, ia memberanikan diri angkat bicara.

“Saya bisa jelaskan, tadi ada dua perampok memasuki rumah ini. Lalu saat mereka ketahuan pemiliknya, mereka membunuhnya. Setelah itu mereka kabur.”

“Siapa kamu?” ucap salah satu warga.

“Saya anak Bu Asiyah dan Pak Rohman.”


“Yang benar saja kau! Jelas-jelas Bu Asiyah dan Pak Rohman tidak memiliki anak.”

“Bohongnya kurang canggih!” sahut warga lain.

“Saya tidak percaya omonganmu. Kamu pasti telah membunuh mereka!”

“Untuk apa saya meminta pertolongan kalian, jika saya sendiri yang membunuhnya.”

“Siapa tahu itu aktingmu saja. Lagipula, jika benar kamu anaknya, mengapa setiap saya ke sini tak pernah melihatmu?”

“Saya memang tidak diperbolehkan keluar kamar jika ada tamu.”

“Siapa yang melarang?”

“Pak Rohman dan Bu Asiyah tentunya.”

“Tidak mungkin, mereka terkenal kebaikannya. Dan Bu Asiyah masih cerita denganku tentang keinginannya memiliki anak. Kamu jangan mengada-ada!”

Dan perdebatan itu terus berlangsung sampai remaja tadi didudukkan di hadapan polisi.

Di kantor polisi, ia disidang lebih banyak. Ia menceritakan mulai awal cerita saat ia ditinggal ibunya di hutan sampai posisinya saat itu. Namun, karena tak ada satupun bukti dari kebenaran ceritanya, akhirnya ia diseret ke jeruji besi.

Meski begitu, ia tak merasa frustasi. Ia menjalani hidupnya yang baru dengan ikhlas. Bahkan, ia mempunyai kebiasaan baru, seperti menulis. Apapun yang mengusik pikirannya ia tulis dengan rangkaian kata yang indah. Satu tahun di penjara, sudah banyak tulisan-tulisannya berupa puisi, cerita inspiratif, artikel, opini, dan lain sebagainya. Sebagian ada yang menggambarkan kisahnya, ada juga yang ia tulis dengan imajinasinya yang liar. Tulisan-tulisan itu selalu ia lempar ke ventilasi yang tembus ke jalanan.

Suatu hari, ada seorang lelaki tua yang bertugas membersihkan jalanan agar terbebas dari sampah yang berserakan. Saat ia hendak menyapu kertas itu, ia sempatkan membacanya, barangkali isinya penting atau milik seseorang yang jatuh. Saat ia membacanya, ia berdecak kagum sambil geleng-geleng kepala.

“Pilihan kata dan gaya bahasanya bagus sekali. Kusimpan sajalah.” ucapnya sambil memunguti kertas-kertas yang lain.

Sesampai di rumahnya, lelaki tua tadi membaca lembar demi lembar kertas yang ia temui di jalan tadi. Saat ia membaca salah satu cerita, seketika hatinya mencelos. Itu adalah kisah yang menceritakan kisahnya beberapa tahun lalu. Matanya berkaca-kaca, ia ingat dengan kejadian beberapa tahun silam.

Hari-hari berikutnya, ia menemukan kertas-kertas semacam itu lagi. Ketika ia membacanya, salah satu isinya ada yang berisi sajak-sajak puisi tentang kejahatan masa lalu yang menimpa si Penulis itu. Ketika lelaki itu mendongak, terdapat ventilasi yang menghubungkan dengan salah satu ruang penjara. Akhirnya, lelaki tua itu sadar. Segera ia melangkahkan kaki memasuki penjara menemui petugas. Ada banyak cerita yang tak seharusnya ia simpan sendiri.

Pemuda cacat di jeruji besi itu terkejut ketika petugas membukakan pintu untuknya. Ia heran, adakah seseorang yang menjenguknya? Sedangkan ia tak punya siapa-siapa lagi selain pena dan kertas yang selalu menemaninya bertukar pikiran dan imajinasi. Sesampainya di ruang jenguk, ada lelaki tua yang telah memakai seragam tahanan. Lelaki tua itu bernama Pak Anton. Ia menceritakan semuanya yang mengganjal hatinya. Bahwa Pak Anton inilah pelaku pembunuhan Pak Rohman dan Bu Asiyah. Partnernya mencuri dulu sudah mati tertimpa besi yang terlepas dari rantainya saat ia melintasi truk muatan besi. Semenjak itu Pak Anton menyudahi perbuatannya yang biadab itu. Ia memilih bekerja seadanya sekedar menyambung hidupnya dan anak gadis satu-satunya.

Pemuda cacat itu terhenyak mendengarnya.

“Sudah jelas. Anda dinyatakan bebas dari penjara.” Kata salah satu polisi.

“Tap… Tapi saya sudah nyaman di sini, Pak. Dan saya tidak punya seseorang atau tempat tinggal yang bisa saya datangi. Saya ingin tetap di sini.”

“Jangan, Nak. Kamu tidak bersalah, sebaiknya kamu keluar dari sini. Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang. Kejarlah!”

“Tapi….”

“Kalau kamu bersedia, menikahlah dengan putriku. Dia tak punya siapa-siapa di rumah. Saya khawatir dengannya.”

“Tidak bisa saya belum siap. Dengan tangan kosong dan kondisi saya seperti ini mana mungkin saya pantas.” lanjut ucapannya yang sempat terpotong.

“Saya mohon, Nak. Saya mengkhawatirkannya.”

Melihat raut kekhawatiran Pak Anton, akhirnya ia mengiyakan.


“Apa Ayah gila? Mana mungkin aku menikah dengan lelaki cacat sepertinya!” bentak Salsa, putri Pak Anton yang menolak mentah-mentah pernikahan itu.

“Nak, Ayah yakin dia anak yang baik.”

“Segitu gampangnya Ayah menilainya? Ayah bilang baru menemuinya kemarin!”

“Nak, dia yang rela masuk penjara padahal tidak bersalah. Biarkan Ayah membalas kebaikannya.”

“Aku belum bisa Ayah.”

“Kenapa? Jangan menilai secara fisik, Nak. Ayah mohon, demi kebaikanmu juga.”

“Baiklah.”

Mereka akhirnya menikah ala kadarnya. Jangan anggap lelaki cacat tadi telah usai penderitaannya, justru badai kembali mengguncangnya. Sejak saat itu, dia memikul tanggung jawab sebagai seorang suami. Karena tak tahu harus berbuat apa, ia hanya berdiam diri di rumah sambil melanjutkan bakat menulisnya. Beberapa ada yang ia kirimkan ke beberapa majalah. Berhari-hari ia hanya berkutik dengan pena dan kertas. Salsa yang geram dengan tingkahnya yang tidak bekerja, akhirnya membentaknya.

“Nulis aja terus! Kamu pikir tulisanmu bisa berubah jadi uang? Kerja sana kek!”

“Ini juga lagi kerja.”

“Kerja apaan? Yang ada lama-lama aku ikutan idiot!” ucap Salsa yang kelewat kasar. Tak seharusnya menyakiti hati suaminya.

“Sabar, proses,” jawabnya tetap santai dan tetap tersenyum.

Suatu hari, ia kedatangan salah seorang kru majalah INSTA (Inspirasi Kata). Ia diminta menjadi bagian dari redaksi tersebut. Tentu dengan senang hati ia menerimanya.

Awalnya, ia bekerja sebagai Notulis dari hasil wawancara. Lambat laun, karena ia bekerja dengan sangat baik dan hasil olahan katanya selalu menarik, akhirnya ia diangkat langsung menjadi Deputy Editor in Chief tanpa sepengetahuan keluarganya. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin banyak pula tantangan dan ujiannya. Setiap hari, ia dijejali caci maki dari orang-orang iri dengan posisinya.

“Baru kerja beberapa bulan udah songong. Sok banget jadi orang. Mentang-mentang dikasih kepercayaan naik jabatan. Ngaca tuh! Seberapa pantas muka dan kaki lo yang pincang itu berada di sini!”

Kiranya seperti itu kata pekerja lain. Ia menanggapinya dengan hati lapang. Sesekali ia menyahut perkataan mereka dengan kata yang bijak, agar tidak dianggap lemah.

“Bukankah diberi kepercayaan adalah sesuatu yang baik? Kita harus menjaganya dengan baik. Dan yang mengaplikasikan pekerjaan adalah otak, bukan fisik yang cacat, apalagi lisan yang banyak cakap.” jawabnya sambil tersenyum.


Dua tahun setelahnya, lahirlah bayi mungil yang mirip dengan ibunya, yakni Salsa. Ialah aku, Mahendra. Saat aku beranjak dewasa, aku tumbuh menjadi anak yang senang bertukar pendapat sampai sesekali menimbulkan perdebatan dengan teman maupun guruku. Namun, aku berubah menjadi pribadi yang pendiam jika berhadapan dengan Ayah. Aku tak pernah memulai pembicaraan sedikitpun dengannya. Sampai Ayah pernah menanyakan langsung mengenai sikapku terhadapnya. Aku tahu jawabanku kala itu menyakiti hati Ayah. Namun, aku tak tahan dengan ocehan teman-temanku yang selalu menghina Ayah. Mereka bilang aku anak orang idiot, pincang, miskin pula. Aku yang saat itu masih labil, bukannya membela Ayah malah membencinya.

Aku selalu melampiaskan kekesalanku pada Ayah. Beberapa tahun setelahnya, tahu-tahu berdirilah gedung mewah berlantai lima yang kabarnya itu milik Ayah. Karena tak percaya, aku menanyakan langsung padanya. Dengan santainya ia mengiyakan pertanyaanku. Sejak saat itu, aku semakin membencinya.

“Aku emang ingin kita hidup berkecukupan, namun bukan dengan cara seperti itu! Bagaimana mungkin dengan pekerjaan Ayah hanya sebagai Notulis mampu membangun bangunan semegah itu!” ucapku kala itu karena kupikir Ayah mendapat uang sebanyak itu dengan cara tidak halal.

Ayah selalu mengajakku bicara baik-baik, namun selalu kutolak dengan cara kasar. Tingkahnya, ucapannya, ceritanya, harapan-harapannya, semua tentangnya membuatku muak. Aku sungguh membencinya hingga bertahun-tahun lamanya.

Suatu hari, aku diajak teman-teman sekampusku mengunjungi kantor redaksi majalah INSTA, salah satu majalah terkenal pada masa itu karena liputannya berbobot. Beragam artikel, opini, pengalaman, dan sajak-sajak bermakna dikemas sedemikian indahnya dengan pilihan kata yang tepat, ditambah bidikan-bidikan gambar memukau yang menambah ke-eksis-an majalah itu. Aku tahu, di sana tempat Ayah memeras keringatnya. Namun, aku yakin aku tak akan bertemu Ayah, karena tujuanku ke sana untuk menemui Owner majalah INSTA. Sedangkan Ayah hanya seorang Notulis yang mustahil berurusan langsung dengan atasan. Pasti kerjanya hanya di dalam ruangan bertemankan pena dan kertas.

Namun, ketika kubuka pintu ruangan Pak Ahmad (Owner INSTA), semua pikiranku berhenti bekerja, tubuhku terasa kaku, darahku naik sampai ke ubun-ubun ketika kulihat Ayah duduk di hadapan Pak Ahmad mengenakan pakaian rapi. Aku benci melihatnya. Kulihat Ayah juga terkejut dengan kedatanganku, namun detik berikutnya ia sudah menguasai keadaan.

Pak Ahmad memperkenalkan Ayah kepada kita. Dilihat dari ekspresinya, ia terlihat bangga dengan Ayah. Dan yang membuatku terkejut, Pak Ahmad mengatakan bahwa Ayah sebagai Deputy Editor in Chief. Wow! Drama apa yang sedang Ayah buat? Selama ini dia bilang sebagai Notulis, namun ternyata dia menempati posisi bergengsi yang diinginkan banyak orang.

Hasil wawancara dengan Pak Ahmad cukup memuaskan. Namun pikiranku tak bisa fokus sedari tadi. Ada banyak tanda tanya berkecamuk dalam benakku. Sesampai di rumah nanti, aku harus meminta penjelasan dari Ayah.


“Ayah, aku mau bicara,” kataku datar saat Ayah memasuki rumah.

Ayah hanya tersenyum sambil berjalan ke arahku. “Mau bicara apa?”

“Mengapa Ayah bilang bekerja sebagai Notulis, tapi ternyata Ayah menempati posisi bergengsi sebagai Deputy Editor in Chief?” sergahku memotong ucapannya.

“Memang dulu Ayah hanya sebagai Notulis, tapi….”
“Sejak kapan?”

“Tujuh belas tahun yang lalu.”

“Mengapa dirahasiakan?”

“Sudah lama Ayah ingin menceritakan padamu, namun melihat sikapmu yang acuh tak acuh pada Ayah, Ayah pikir nanti saja biar jadi kejutan.”

“Kejutan? Termasuk gedung mewah itu?”

“Iya, itu adalah….”

“Apa itu hasil dari kerja keras Ayah?”

“Iya, gaji yang Ayah dapat selama ini, tiga perempat bagiannya Ayah tabungkan dan membuahkan hasil gedung itu.”

“Untuk apa?”

“Untukmu, Nak.”

Ayah tersenyum seraya mengatakan itu.

“Maksud Ayah?” ucapku terbata-bata, bingung dengan ucapannya barusan.

“Ini,” ia malah menyodorkan sebuah map. Ketika kubuka dan kubaca isinya, tertera namaku di dalamnya. Ayah mengatas-namakan aku pemilik gedung itu. Tapi untuk apa? Bukankah selama ini aku menyakiti hatinya? Mengapa Ayah melakukan itu semua? Tak bisa kubendung airmataku lagi. Benteng yang seakan memisahkanku dengan Ayah akhirnya runtuh.

Segera kupeluk sosok Ayah yang selama ini kubenci.

“Gunakan sesuakamu asalkan bermanfaat,” katanya sambil menepuk pelan bahuku.

“Terimakasih Ayah, selama ini aku salah menilaimu.”

“Sama-sama. Kejar cita-citamu.”

“Iya, akan kuteruskan jejak perjuangan Ayah. Terimakasih telah mengajariku banyak hal menakjubkan.”

“Mau dengar sejarah hidup Ayah?”

“Tentu.”

Dan malam itu menjadi malam terindah bagiku. Mengalirlah cerita-cerita yang kujadikan tulisan ini yang membuatku kagum padanya. Untuk kali pertama, aku merasakan kehangatan di sisi Ayah. Karenanya, semangatku, cita-citaku, dan tekadku setinggi angkasa. Dan Angksa adalah nama Ayahku. (*)

‘Aunaa Nouri

‘Aunaa Nouri binti Thohirin, Kelas: 2 Aliyah F Banat. Lahir di Pekalongan, 2003. Gumawang – Wiradesa Pekalongan

Cerpen ini menjadi Pemenang ketiga dalam lomba penulisan cerpen Perpustakaan Perguruan Islam Mathali’ul Falah 2020 bekerja sama dengan pojokpim.com

Ilustrasi lukisan: Z. Musthofa – Ponorogo

Tinggalkan komentar

Pojok PIM

FREE
VIEW