CerpenRekomendasi

Persimpangan Jalan

Oleh Nur Hikmah

Mulai menuju puncaknya. Angin semakin berderu kencang, membuat jilbab merah muda yang dikenakan gadis itu menari-nari. Entah apa yang dilakukannya di sana. Lantai 4, puncak pesantren Al-Akbar. Dia hanya memandang langit yang semakin banyak gumpalnya awan dan sesekali beralih pada benda yang dipandangnya. Sebuah bolpoin berwarna metalik. Perlahan dia mendekatkan bolpoin itu ke bibirnya dan berbisik, “Aku akan memulainya dari sini.”

***

Pagi yang cukup cerah untuk memulai aktivitas di Pesantren Al-Akbar, menjadi berbalik 180 derajat karena terdengar suara kegaduhan yang berpusat pada salah satu kamar santri yang dikerumuni oleh para santri lain.

“Lisya, keluar kamu. Kita di sini tidak mau dapat laknat dari Allah gara-gara kamu pemabuk ya!” teriak Salsa, santri yang berada deretan paling depan.

“Iya, benar. Keluarkan Lisya dari sini.”

“Bener, tuh. Anak baru sudah buat ulah saja.”

Santri yang lain pun ikut menimpali membuat kegaduhan semakin menjadi-jadi. Perlahan pintu pun terbuka, menampakkan seorang gadis yang tidak memakai jilbab sedang melawan tatapan mereka. Semua santri tambah meradang melihat gadis tersebut.

“Ya Allah, ada apa ini. Kenapa kalian belum berangkat sekolah, malah berkumpul di sini!” bentak Ustazah Aisyah yang sedang berjalan menyibak kerumunan.

“Ini, Ustazah. Kami sedang menangkap pemabuk seperti dia,” jawab Salsa dengan menunjuk gadis tersebut.

“Pemabuk? Apa buktinya kalo dia pemabuk, Salsa?”

“Saya tadi malam melihat dia di lantai 4 membawa botol itu Ustadzah. Kalau Ustadzah tidak percaya, geledah saja kamarnya.”

Ustadzah Aisyah pun masuk dan memeriksa setiap jengkal kamar gadis itu.

“Apakah benar ini punya kamu?” tanya Ustadzah Aisyah dengan mengangkat sebuah botol yang asing di mata para santri.

“Benar Ustadzah, tapi saya sudah berjanji jika itu botol yang terakhir,” jawab gadis itu dengan suara bergetar.

“Pakai jilbab kamu dan ikut saya ke kantor.”

***

“Lisya Farensia, umur 20 tahun, yatim piatu, status santri baru dan tertangkap menyimpan minuman keras,” jelas Ustadz Jamal sebagai penanggung jawab keamanan sedang membaca profil Lisya.

“Apa kamu tidak tahu hukuman dari minuman yang kamu bawa itu?” tanya Ustadz Jamal dengan tatapan mata yang tajam.

Lisya menjawab pertanyaan itu dengan tatapan kosong.

“Apa kamu tidak tahu konsekuensi jika kamu meminumnya?” lanjut Ustadz Jamal dengan menaikkan satu oktaf suaranya.

“Dalam surat Al-Maidah ayat 90 telah dimaktubkan bahwa meminum khamr diharamkan dan termasuk perbuatan setan. Di beberapa kitab juga disebutkan bahwa setelah meminum khamr 40 hari setelahnya ibadah yang dilakukan si pelaku tidak diterima oleh Allah. Juga di beberapa riwayat disebutkan bahwa kelak di alam kubur para tetangga si peminum khamr rambutnya akan memutih disebabkan begitu panasnya siksaan yang dialami pelaku.”

“Namun Allah selalu membukakan pintu taubat untuk hambanya yang bersungguh-sungguh,” Lisya menjawabnya dengan pandangan lurus pada Ustadz Jamal.

Sayup-sayup terdengar suara ketukan kaki yang membuat Ustadz Jamal dan Lisya seketika menoleh, terlihat jelas seorang santri yang berada di ambang pintu sedang terengah-engah mengatur nafasnya.

“Assalamualaikum, Ustadz. Maaf, Lisya dipanggil Pak Kyai ke ndalem sekarang.”

***

Hati Lisya gelisah. Sudah sejak tadi tangannya bergetar dan berkeringat. Sesekali dia menarik nafas untuk menghilangkan rasa gelisahnya. Hatinya tambah gelisah saat melihat bayangan yang semakin mendekatnya. Dalam sekejap Kyai Musthofa dan ustazah Aisyah sudah duduk di hadapannya.

“Saya tadi sudah diceritain oleh putri saya atas yang kamu lakukan, Nduk.”

Tubuh Lisya tambah bergetar hebat, dia tak sanggup lagi menegakkan badannya, dia hanya menunduk, terus menunduk tanpa harus berkata apa-apa.

“Saya tahu, Nduk. Kamu ke sini berniat untuk memperbaiki dirimu, untuk mencari kedamaian akan segala kehidupanmu. Tapi dengan kamu membawa barang haram itu, tindakanmu ini tidak bisa dibenarkan.”

Isak tangis Lisya sudah tidak bisa dibendung. Kyai Musthofa benar, Lisya sudah mengetahui sebagian hukum-hukum Islam. Dia tahu semua perintah dan larangan-Nya. Tapi masa lalu itu, pria yang membuat hati dan harapannya menjadi hancur dan tak bersisa membuatnya melampiaskan pada barang haram tersebut.

“Sudah, Nduk. Tenangkan hatimu. Tata niatmu kembali. Perlahan-lahan insyaallah besok kamu akan menemui hasilnya.”

“Terimakasih, Pak Kyai,” ucap Lisya dengan suara parau. Dia sudah tak berani lagi bersuara. Dia terlampau malu duduk berhadapan dengan kyai Musthofa dan Ustadzah.

“Aisyah, antar Lisya untuk berwudhu.”

“Baik Abah”

***

Malam ini Lisya sedang duduk di rooftop dengan menjulurkan kakinya ke bawah. Akhir-akhir ini dia sering melakukannya. Saat semua santri terlelap dia memilih memanjat tangga untuk mencapai rooftop dan duduk berlama-lama di sana untuk memandang langit. Seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya dan menyodorkan selembar foto.

“Ini pasti punya kamu, tadi jatuh di depan kamar.”

Lisya mengambil foto itu dan memandangnya.

“Apa Lisa Syafa’atul Udzma yang ada di foto adalah kamu?” tanya Fitri dengan menunjuk gadis kecil yang sedang digendong pria dewasa yang berhidung mancung.

Lisya hanya menganggup samar, menciptakan keheningan di antara mereka.

“Apa kamu pernah patah hati, Fit?”

“Pertanyaanmu aneh sekali, Sya. Kamu pasti sedang mengalaminya.”

“Dia terlalu baik untuk membuatku patah hati.”

Hening kembali. Fitri belum bisa menebak arah perbincangan. Dia hanya menunggu agar Lisya melanjutkannya.

“Aku adalah seorang anak dari keluarga broken home, dan aku memilih lari ke jalanan untuk melampiaskan semuanya. Dari sana aku mulai tidak shalat, tidak puasa, tidak pernah lagi menyentuh Al-Qur’an dan mulai meminum barang haram itu.”

“Lalu dia hadir saat aku berada pada titik terendah. Dia menghampiriku memberiku sebuah bolpoin. Belum sempat aku bertanya apa maksudnya, dia pergi begitu saja. ASYFI RAYHAN. Begitu nama yang tertera pada balpoin itu, juga dengan nomor telponnya.”

“Dia memberi dampak besar dalam diriku, setiap kali kami bertemu dia selalu mengajariku tentang agama, walaupun sebenarnya aku sudah tahu, karena dulu Ayah sering membacakan kitab kuning, bahkan aku juga bisa sedikit membacanya. Tapi hanya dengan cara ini aku bisa berlama-lama dengannya.”

“Seiring berjalannya waktu dia pun tahu latar belakangku, dia selalu membujukku agar meminta maaf kepada orang tuaku. Dan aku selalu menolaknya. Aku belum siap bertemu dengan mereka, sakit hati ini terlalu dalam.”

Lisya terdiam dan mengarahkan pandangannya ke langit. Ada tatapan kerinduan di sana. Semua berjalan baik-baik saja hingga berita itu sampai di telingaku. Ayah meninggal, saat aku pergi dari rumah Ayah mulai sakit-sakitan dan aku tidak tahu itu. Anak mana yang tidak tahu jika Ayahnya sedang menderita. Anak mana yang tidak ada di samping Ayahnya saat Ayahnya sedang meregang nyawa. Anak mana Fit? Aku adalah anak durhaka. Hati Lisya perih mengingat kenyataan itu, namun semakin ia mengingatnya, semakin rasa benci itu tumbuh di hatinya.

“Saat hari pemakaman Ayah aku tidak menangis. Fikiranku hanya tertuju seseorang Mama. Aku menunggunya, namun sampai Ayah di kebumikan, Mama tidak juga datang. Saat itu aku mengamuk, semua ini gara-gara Mama. Jika saja mama tidak memilih pria lain selain Ayah, semua ini tidak akan terjadi. Aku tidak akan pergi dari rumah dan Ayah tidak akan pergi secepat ini.”

Deru nafas Lisya terdengar begitu kasar, menunjukkan betapa besar amarah yang selama ini dia pendam.

“Mulai saat itu aku mendeklarasikan bahwa diriku seorang yatim piatu. Tiga hari setelah pemakaman Ayah Reyhan menelfonku. Aku memang belum memberitahunya atas kematian Ayah. Saat aku ingin mengatakannya dia sudah berbicara bahwa ingin bertemu denganku.”

Terjadi jeda yang cukup panjang. Mata Lisya terlihat berkaca-kaca, amarah yang tadi meluap kini berganti dengan sorot mata yang rapuh.

“Saat kami bertemu, dia hanya diam. Dia selalu menghindar dari tatapanku. Saat aku bertanya kenapa, dia hanya diam. Aku mencoba menyelami manik matanya namun hanya kekosongan yang ada di sana. Sudah sangat lama kami bertemu namun dia masih saja diam. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk beranjak dan saat itulah dia mengatakannya,” kini air mata Lisya sudah tak terbendung.

“Dia mengatakan bahwa dia mencintaiku, sudah sejak lama dia memperhatikanku, jauh sebelum dia berani berkenalan denganku. Hatiku serasa ditumbuhi miliaran bunga. Akhirnya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Karena aku terlalu bahagia, spontan aku memeluknya. Aku hampir menangis saat itu. Namun dia hanya berdiri mematung. Saat aku menyadari hal ada hal yang tidak beres, aku melepaskan pelukanku. Lalu dia mengatakannya. Hal yang membuat semua harapan sekaligus hatiku hancur. Ternyata dia telah dijodohkan dengan anak sahabat karib Ayahnya.”

“Seperti ada godam yang menghantamku. Aku seketika mematung. Reyhan masih melanjutkannya, dia tidak berani membantah Ayahnya karena gadis itu membutuhkan orang yang tepat untuk memperbaiki hidupnya, itu adalah wasiat terakhir Ayah gadis itu. Aku pun menangis dan marah. Aku mempertanyakan bukti cinta Reyhan padaku. Kenapa dia tidak memperjuangkanku. Kenapa dia menerima perjodohan itu. Apa artinya aku selama ini dalan hidupnya,—sebelum dia menjelaskan semuanya— aku langsung berlari, berlari membawa semua rasa sakit ini sendiri.”

“Aku mengemasi semua barangku yang ada di rumah. Aku ingin pergi jauh, sejauh mungkin agar rasa sakit ini tertinggal. Aku pun kembali pada kebiasaan lamaku. Jalanan. Namun setelah seminggu aku pergi, aku ingat bahwa dulu Ayah pernah bilang jika tempat paling meneteramkan hati adalah pesantren. Maka sampailah aku di sini.”

“Jika kamu mencintai Reyhan karena Allah, mungkin Allah akan mempersatukanmu kembali dengan nya, Sya.”

“Itu hanya omong kosong, Fit. ungkin sekarang dia sudah menjadi milik orang lain.”

***

Hari ini adalah hari penentuan kelas bagi para santri Pesantren Al-Akbar. Santri yang sebagian besar mendalami kitab kuning ini sangat menantikannya, karena sangatlah bergengsi jika mereka mendapat kelas A di setiap kelas yang mereka tempati.

“Sya, kamu mau lihat pengumumannya nggak? Aku penasaran masuk di kelas apa,” ucap Fitri. Kini mereka sedang berjalan di lorong. Mereka baru saja sarapan di kantin. Sebagai jawabannya Lisya hanya mengangguk.

“Banyak sekali yang mau ngelihat, Fit,” ucap Lisya yang heran melihat banyaknya santri di depan papan pengumuman yang berdesakan ingin melihat nama mereka.

“Ya wajarlah, biasanya labih banyak lagi tauk.”

Lisya hanya bisa menggelengkan kepala. Fitri bergegas menggandeng tangan Lisya, untuk segera melihat nama mereka.

“Ya Allah, Sya… Aku ditempatin di kelas A,” teriak Fitri sambil berjingkrak-jingkrak. Dia terlalu heboh sampai menjadi pusat perhatian santri lain. Lisya hanya bisa geleng-geleng sambil tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.

“Kamu di kelas berapa, Sya?” Lisya menunjuk nama 5 baris di atas nama Fitri.

“What?” teriak Fitri histeris. “Kamu terlalu jenius untuk ukuran seorang yang pendiam, Sya.”

“Aku terlalu tua untuk ukuran anak kelas II, Fit.”

Mereka tertawa. Memang benar umur Lisya kini sudah 20 Tahun. Sebenarnya dia sudah Lulus SMA di sekolahnya yang dulu, karena di Pesantren AL-Akbar diwajibkan mengikuti sekolah, maka kemarin dia mengajukan tes tambahan agar dia bisa loncat kelas lebih tinggi.

Hari pun berganti hari. Tak terasa dua tahun sudah Lisya nyantri di Pesantren AL-Akbar. Sekarang dia tidak lagi pendiam. Dia telah menjelma menjadi salah satu santri yang aktif di Pesantren dua tahun terakhir ini. Dia sering menyabet kejuaraan yang mengharumkan nama Pesantren AL-Akbar. Debat Basa Arab, debat Bahasa Inggris, Qiroatul Kutub, dan masih banyak lagi lomba yang dia juarai.

Hari-hari berat ujian telah terlewati. Semua santri tengah menangis bahagia. Ini adalah kedua kalinya Lisya merasakan kelulusan sekolah. Namun tidak ada sorak suara, semprotan cat, ataupun konvoi besar-besaran di jalan, yang biasa ia lakukan dulu. Yang ada hanya isak tangis para santri dan bisikan hamdalah yang saling bersahutan. Perlahan air mata Lisya luruh. Dua tahun yang berat baginya, bukan tentang sekolahnya, tapi masa lalu itu yang sampai saat ini tak bisa berdamai dengannya.

***

H-1 acara perpisahan AL-Akbar semua santri terlihat sangat sibuk mempersiapkan penunjang untuk acara tersebut. Bahkan berbagai keluarga dari beberapa santri yang berasal dari seberang pulau telah tiba. Membuat Pesanren AL-Akbar terlihat lebih ramai dari biasanya.

Raut wajah Lisya terlihat gelisah, saat melakukan geladi resik saja dia beberapa kali melakukan kesalahan. Seharusnya hatinya bahagia seperti kemarin saat pengumuman kelulusan. Tetapi ada hal yang mengganjal di hatinya.

“Kamu sakit, Sya?” tanya Fitri saat mereka selesai melakukan gladi resik.

Nggak, kok. Cuma lagi banyak fikiran saja.”

“Gaya kamu. Sudah lulus ajah masih banyak fikiran.”

“Orang jenius mah beda!”

Mereka tertawa bersama.

***

Satu demi satu acara telah berakhir. Kini hanya tinggal sesi dokumentasi bagi para santri dan keluarganya. Lisya lebih memilih menjauh dari tempat acara. Toh tidak ada keluarganya di sini.

“Sya, kamu dipanggil zustadzah Aisyah,” kata salah seorang santri yang melewati Lisya.

Lisya hanya mengangguk. Lalu berjalan menuju ndalem Pak Kyai. Ustadzah Aisyah telah menunggunya di sana.

“Ustadzah memanggil saya?”

“Iya Lisya, ada yang ingin bertemu denganmu.”

Lisya memilih mengikuti Ustadzah Aisyah masuk. Di ruang tamu terihat Pak Kyai Musthofa yang sedang berbincang dengan seorang pria yang sedang memunggunginya. Kyai Musthofa menunjuk Lisya yang baru datang dan seketia pria itu menoleh.
Deeeg! Seperti ada sesuatu yang menghantamnya dengat kuat. Kakinya seperti terpaku pada bumi, tak bisa digerakkan.

“Lisya….”

Pecah sudah benteng pertahanan yang dia buat salama ini. Air matanya luruh, dia tak sanggup melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini. Dia memilih berlari dan terus berlari—sampai tak peduli berapa banyak orang yang sudah dia tabrak. Saat ini hatinya lebih penting. Saat dia belum siap dengan pertemuan ini. Hatinya masih sangat rapuh untuk berhadapan dengan pria tersebut.

***

Sampai malam Lisya di sana. Proptop Pesantren tempat rahasianya saat ini.

“Aku tahu kamu di sini. Semua orang mencarimu, Sya.”

Lisya tidak menoleh. Dia sudah tahu siapa yang datang.

“Ustadzah Aisyah tadi mencarimu dan menitipkan ini untukmu. Ustadzah juga bilang hahwa Reyhan besok baru akan pulang.”

Masih tidak ada respon dari Lisya. Maka Fitri hanya meletakkan barang itu di samping Lisya.

“Aku mendukung semua keputusanmu, Sya. Tapi aku mohon, dengarkan kata hatimu.”

Lisya masih saja mematung. Setelah beberapa lama menunggu respon darinya, Fitri memilih pergi. Mungkin sahabatnya itu butuh waktu untuk menyendiri.

Tubuh Lisya semakin kedinginan. Bibirnya terlihat membiru karena udara malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Perlahan Lisya membuka amplop itu. Sebuah surat. Jarinya sedikit bergetar saat membuka amplop tersebut.

Assalamu’alaikum….


Bagaimana kabarmu, Lisya? Mungkin tahun terakhir ini terasa berat bagimu—begitu juga bagiku. Aku tak tahu harus memulainya dari mana. Semua ini terlalu rumit.

Dulu saat kamu pergi dan menghilang tanpa jejak, aku seperti orang gila. Berlari-lari aku mencarimu, ke sana-kemari. Namun tidak ada satu pun yang tahu di mana keberadaanmu. Saat aku jatuh sakit, Ayah sangat prihatin padaku—ada hatiku yang hancur tepatnya. Dan saat itu Ayah tiba-tiba menggenggam tanganku.

“Rey, jika Lisya memang jodohmu, Allah akan mempertemukan kalian kembali. Tapi dengan caranya. Bukan dengan caramu ke sana-kemari mencarinya. Kamu cukup hanya ikhlas dan berdo’a. Sisanya biar Allah yang menjalankan skenarionya.”

Aku mulai mencoba untuk mengikhlaskanmu. Mungkin kita tidak ditakdirkan berjalan pada jalan yang sama. Namun Ayah selalu benar, Allah menunjukkan caranya sendiri. Aku melihat namamu pada daftar Santri Mutakhorijat Pesantren Al-Akbar,—seperti mendapat jawaban atas do’a-do’aku selama ini. Bergegas aku berangkat untuk memastikannya. Dan aku melihatmu sore ini. Namun kamu malah berlari menjauh seperti dulu.

Apakah kamu tahu siapa gadis yang dijodohkan Ayah denganku? Sekarang dia sudah memperbaiki dirinya sendiri. Dia sudah melakukannya tanpa bantuanku. Dia adalah Lisya Syafa’atul Udzma. Gadis yang selama ini ada dalam hatiku.

Wassalamu’alaikum….

Asyfi Reyhan

Tak terasa, buliran air mata mulai luruh dan menjuntai membasahi pipi Lisya yang ranum. (*)

Nur Hikmah

Nur Hikmah binti Suharto, kelas 1 Diniyah Wustho D Banat. Alamat Penpen-Mundu-Cirebon.

Cerpen ini menjadi Pemenang kedua dalam lomba penulisan cerpen Perpustakaan Perguruan Islam Mathali’ul Falah 2020 bekerja sama dengan pojokpim.com

Ilustrasi lukisan: Z. Musthofa – Ponorogo

Tinggalkan komentar

Pojok PIM

FREE
VIEW