CerpenRekomendasi

Segenggam Tasawuf dari Abah

Oleh Nailul Wardah

Hari ini. Tepat saat senja mulai menjingga di balik megahnya kubah masjid jami’ kota Lasem, aku meratap pada selasar rindu yang mengepung sendu. Aku terduduk pada segumpal lara yang menelan kecewa. Tatapku tertuju pada sebuah nisan yang tulisannya terpahat begitu indah. Terlihat berwibawa. Terlihat amat teduh.

Ya. Nama Abahku tertera di sana. Nama istimewa yang selalu melekat kuat pada setiap inci jiwaku. Meski hanya tinggal nama.

Aku tahu, meskipun hampir dua tahun Abah meninggalkanku dalam kesenduan bersama ibuk, tapi titah-titah semangat dari beliau masih amat membara dalam kenangan yang terjaga. Beliau mewariskan sebegitu banyak mimpi yang harus kujalani. Beliau memberikan sebegitu luas kucuran ilmu tanpa henti.

Rapal tahlilku kututup dengan seuntai do’a dan kusudahi dengan benih-benih rindu yang terkata dalam air mata. Aku rindu Abah. Aku rindu dawuh hangat beliau. Aku rindu senyuman penenang dari beliau saat aku sudah di ambang kekalahan dalam berjuang.

“Abah… seharusnya, besok lusa Abahlah yang menjabat tangan suami Syafna,” lirihku tertahan.

Ya. Lusa aku akan menikah. Menikah dengan lelaki yang tak pernah kukenal sebelumnya. Tapi sudah kukagumi hadirnya dalam setiap relung rasaku. Karena dia adalah sayap pengganti kaki penopangku. Dia yang akan mengajakku terbang dan mengajarkanku tentang arti percaya pada kata merelakan.

Meski baru dua bulan aku boyong dari pondok, Ibuk sudah ngersaake aku menikah dengan lelaki itu. Lelaki pilihan Abah. Aku tak kuasa menolak pinta itu. Bagaimana mungkin aku bisa menolak pilihan Abah? Jika aku tahu, bahwa Abah selalu memberikan yang terbaik untukku?

Dan entah mengapa, pilihan Abah justru jatuh pada lelaki yang tidak terlahir dalam keturunan pesantren. Pilihan Abah justru jatuh kepada lelaki biasa, tapi teramat luar biasa di hadapanku dan seluruh keluargaku.

Aku berdiri, beranjak keluar dari area makam Mbah Sambu, tempat Abah bersemayam. Sesekali kuusap pipiku yang terasa basah menggenangi wajah.

Abah selalu dukan melihatku menangis dan rapuh di depan orang lain. Tetapi setiap bersama Abah sendiri, aku selalu bebas menangis. Beliau selalu menawarkan peluknya sebagai tempatku mengutarakan kesah, sebagai tempatku meredam lelah.

“Sudah, Ning?” tanya Aniqoh

Aku mengangguk sambil memberinya senyum tipis, “Nanti mampir burjo yang ada di depan masjid ya, Mbak. Ibuk titip bubur soale.”

Aniqoh mengangguk. Aku lalu segera duduk di jok belakang motornya. Memegang pundaknya yang gemuk.

Motor mulai melaju. Sekali lagi kutatap area makam tempat Abah diistirahatkan bersama para dzurriyahku yang lain. Air mataku kembali merebak keluar. Masih kuingat jelas, banyak pesan Abah sebelum beliau berpulang.

Ah, Gusti..

Ternyata kerinduan memang tak pernah bisa bersahabat dengan keadaan.


Tiga tahun yang lalu…

“Sudah berapa kali sampean kesidang gara-gara masalah yang sama, Na?!”

Aku bungkam. Diam dengan perasaan memendam sedikit kecewa. Bukan diam karena apa yang dikatakan gadis di depanku beserta beberapa yang lain ikut menyidangku benar. Aku hanya sedang lelah berdebat, muak memberontak.

“Kamu pacaran, kan? Mu’asyaroh dengan Kang Fahim?”

Aku menggeleng. Hatiku mendesah lara lagi.

Duh, masyaallah. Baru kemarin disu’udzoni dengan Kang Fadhli, sekarang sudah ganti lagi. Kenal saja tidak. Bagaimana bisa aku mu’asyaroh?

Mu’asyaroh itu memalukan, Na! Ngisin-ngisini pondok! Sudah berapa kali sampean diingatkan? Apa sampean gak kapok?”

Ocehan itu kubiarkan mengambang tanpa jawaban. Terseret bersama desau angin tanpa sedikit pun tertancap di otakku. Aku sudah terlalu muak terhadap su’udzon yang bertubi-tubi datang kepadaku.

Aku tahu dan sepenuhnya sadar, aku adalah salah satu santri yang gemar melanggar peraturan pondok. Sering tak mengikuti kegiatan wajib. Mbedal saat jam lalaran. Tapi toh, aku tidak pernah sekalipun merasa kenal dengan santri putra. Aku kadung cuek dengan mereka. Sekalipun seringkali, namaku dipanggil-panggil saat berangkat sekolah.

Mondok memang bukan inginku. Ini keinginan Abah, paksaan dari beliau yang tak bisa kutawar lagi.

“Sekali lagi sampean me…!?”

Aku menggebrak meja, tatapku nyalang menatap wanita yang kini mentapaku dengan kaget. Aku biasanya selalu diam jika disudutkan, tapi kali ini aku tak akan tinggal diam dibeginikan.

“Sekali lagi saya juga bilang ke jenengan mbak. Saya tidak kenal seluruh nama santri putra yang sampean tuduhkan mu’asyaroh bersama saya. Saya tidak serendah dan sehina itu.”

Ruangan menjadi hening. Aku berlalu ke luar kantor sambil menahan air mataku yang hendak menderas keluar.

Aku tidak boleh menangis. Sekali saja aku terlihat jatuh, maka pasti akan banyak lagi masalah yang datang menerpaku. Dan mereka semakin merasa menang terhadap kelemahanku.

Ah, Gusti….

Kenapa tak henti juga cobaan-Mu ini? Sedang hatiku saja sudah tak merasa nyaman lagi hidup di pondok ini!


“Abah…. kulo gak mau balik pondok. Kulo ingin boyong saja.”

Di depanku, Abah diam saja. Tak menanggapi. Beliau tetap melanjutkan kegiatan menulisnya. Padahal mataku sudah membasah, dan air mataku mulai merebak keluar.

Aku lelah. Aku lelah berada jauh dari rumah. Aku lelah dengan semua masalah yang tak kunjung selesai.

Abah tetap diam. Suasana di antara kami menjadi semakin hening. Memang, saat ini, kami sedang berada di perpustakaan pribadi milik Abah. Ruangan kecil yang dindingnya terpenuhi oleh berbagai macam kitab kuning dan buku-buku berat. Di tengah-tengah ruangan, ada meja kecil dan karpet kecil yang empuk, tempat Abah pinarak saat sedang asyik menulis.

Entah mengapa aku selalu merasa nyaman jika berada di ruangan ini. Hawanya yang adem dan tenang, jauh dari keramaian pondok yang terletak tepat di samping kamarku.

“Abah…,” panggilku lagi, saat ucapanku tadi tak mendapat jawaban dari beliau.

Abah menatapaku hangat, “Kamu mau martabak manis? Ayok beli. Kan besok sudah balik pondok.”

Ah! Rupanya Abah berusaha mengalihkan sedihku dengan sebuah martabak manis. Aku kukuh menggeleng sebagai jawabannya. Aku sedang tidak ingin martabak saat hatiku sedang dirundung kecewa.

Kulo ingin boyong,” ucapku mantap.

“Ada masalah itu diselesaikan, Nok. Jangan ditinggal lari. Bukannya selesai, malah semakin menjadi nanti.”

Aku tertunduk dalam. Kalimat sederhana Abah menyentil rasa egoku. Abah memang benar. Aku yang terlalu pengecut untuk berani menghadapi masalah sedikit yang kuanggap besar.

“Ayok beli martabak, nanti selak ramai loh antriannya.”

Aku diam.

“Abah bonusin es-krim dua cup deh.” Abah tersenyum

Aku mengusap air mataku karena haru, “Saestu nggih, Bah?”

Abah mengangguk.

Aku tersenyum bahagia. Abah selalu tahu penenangku. Abah selalu bisa meredam kesalku. Abah selalu bisa mengganti sedihku dengan tawa yang penuh haru.

Kutatap wajah teduh Abah yang terbingkai senyuman. Abah sudah sangat terlihat sepuh. Suatu saat, mungkin sedihku harus kuredam sendiri.

Ah, Abah….


Kami menyusuri penjuru kota Lasem dengan motor tua kesayangan Abah yang bunyinya sangat berisik. Kata Abah, motor ini adalah motor yang bersejarah. Motor yang selalu menemani hari-hari Abah saat muda dulu, bahkan sampai saat ini.

Aku duduk di belakang Abah, memeluk tubuh Abah yang tidak terlalu gemuk tetapi selalu memancarkan kehangatan yang tak terkira.

Motor tua terus melaju. Lurus menuju ke arah utara. Kami di ambang diam. Menikmati perjalanan. Memandang hamparan sawah serta senja yang menguning di ujung barat.

“Kita mau ke mana sih, Bah?” tanyaku agak keras, karena suara kendaraan di sekitarku, serta suara motor Abah yang ribut begitu terdengar dan menelan suaraku.


Motor di parkirkan di sebelah sebuah aula. Aku berjalan mengekor di belakang Abah, beliau tampak riang menyalami beberapa laki-laki yang tampak asing dimataku.

Abah diam. Pertanyaanku tak mendapat jawaban. Tetapi motor yang kami tumpangi mulai berbelok ke arah kanan dan masuk ke sebuah pelataran wisata religi yang sering kukunjungi saat liburan bersama Mas Robin.

Kami melanjutkan perjalanan. Menaiki tangga yang cukup tinggi untuk sampai di tempat tujuan. Ya, saat ini kami sedang berada di sebuah kompleks makam Sunan Bonang yang terletak di Lasem sendiri. Entah apa maksud Abah mengajakku ke mari.

“Nok…?”

Kami sudah mulai menaiki satu per satu tangga.

“Dalem, Bah”

“Pelajaranmu sudah sampai kifayatulatqiya’?”

“Sudah, Bah”

Kami terus berjalan.

“Kamu tahu, Nok? Selama ini, orang-orang hanya tahu, bahwa nafsu itu ada tiga.”

Aku mengangguk. Diam mendengarkan.

“Padahal sejatinya, nafsu itu ada enam.”

“Enam, Bah?” tanyaku heran.

Abah diam. Kami sudah sampai di puncak. Angin-angin langsung menyapa kami. Jilbabku berkibar-kibar. Lelahku seolah tak terasa.

“Enam itu apa saja, Bah?” tanyaku mengulangi.

Abah menatapku. Beliau duduk di depan petilasan. Tampak menarik nafas karena kelelahan. Di sini hawanya sangat adem, lebih adem daripada di perpustakaan milik Abah.

Nafsu Ammaroh, simbol Jawanya Dasamuka, nafsu itu menjadikan manusia sebagai pribadi yang sak karepe dewe dan menang-menangan,” ujar Abah tenang. Beliau segera masuk ke dalam pasujudan sambil menunduk. Aku mengikuti di belakang beliau.


Lalu yang terdengar selanjutnya adalah suara berat Abah merapal bacaan tahlil.

“Lalu yang kedua, Bah?” tanyaku, saat kami sudah menuruni tangga.

Kata Abah, setelah ini aku akan diajak ke ndalemnya Sunan Bonang saat dulu menyebarkan agama Islam di sini. Menurut masyarakat sini, ndalem itulah makam asli Sunan Bonang. Bukan makam yang masyhur di kota Tuban. Wallahua’lam.

“Yang kedua adalah nafsu lawwamah. Simbol Jawanya Kumbokarno. Nafsu itu membuat manusia jadi ngantukan dan doyan makan. Ya persis kaya awakmu ini, hehe…,” Aku merengut. Di sampingku, Abah justru tertawa.

Sekejap kemudian, suara adzan maghrib menengahi kebahagiaan antara kami. Kami sholat maghrib di masjid yang menjadi peninggalan Sunan Bonang. Masjid yang designnya begitu sederhana. Beberapa tiangnya bahkan masih terbuat dari kayu jati. Aku duduk di teras masjid. Kulihat Abah baru keluar dari area sholat laki-laki dan berjalan menuju ke arahku. Beliau duduk di sampingku.

“Yang ketiga apa, Bah?”

Abah tergelak. Bahunya naik-turun menahan tawa, “Arek kok gak sabaran.” Aku ikut tersenyum geli. “Nafsu muthmainnah, simbol Jawanya Sarpokenongo. Nafsu itu tenang, menjadikan manusia bisa bertempat di segala lini.” Aku diam menyimak.

Suasana semakin dingin. Abah mengajakku untuk segera ziarah ke ndalem. Sampai sana, ternyata sudah cukup ramai oleh orang-orang kampung yang juga membaca tahlil dan yasin. Persis seperti yang ada di makamnya Mbah Muthamakkin. Namun bedanya, di sini tidak ada sekat yang memisah antara laki-laki dan perempuan. Di sini juga sangat tenang, karena letaknya jauh masuk ke area ndalem. Abah memilih duduk di dekat pagar pembatas. Aku mengikuti lagi. Dan selanjutnya, Abah kembali merapal tahlil dengan begitu tenang. Keluar dari area ndalem, Abah langsung mengajakku pulang. Karena aku memang tidak bisa terlalu lama berada di luar rumah saat malam hari.

“Yang keempat, Bah?” tanyaku, sebelum Abah menyalakan motornya. Aku memeluk perut Abah.

“Yang keempat nafsu Shufiyyah, simbol Jawanya Wibisono. Nafsu itu membuat manusia merasa senang dan ayem,” tutur Abah lalu segela menjalankan motor. Aku mendekap erat tubuh Abah. Sampai dinginnya angin malam tak terasa lagi.

Malam ini, aku ingin kebersamaan kami tidak berakhir. Malam ini adalah malam terindah yang kupunya bersama Abah. Kesedihan serta keraguanku untuk balik ke pondok langsung meluap tak tersisa.

“Jadi beli martabak, Nok?” tanya Abah.

“Es-krim saja, Bah. Pasti martabaknya antri lama.”

Motor terus melaju. Dan bahagiaku dirundung cerita yang turut mengharu. Esoknya, saat di perjalanan kembali ke pondok, hatiku mulai bisa diajak berdamai dengan seluruh masalah. Dan aku semakin mantap untuk menghadapi segala bentuk su’udzon yang menerpaku.

“Abah….”

“Hem?”

“Yang kelima apa?” Abah menatapku dari kaca depan mobil.

“Nafsu Rodhiyyah, simbol Jawanya Dewi Sukaeshi. Nafsu itu setingkat lebih tinggi dari nafsu Shufiyyah.”

“Kalau yang keenam?” Abah diam dan tersenyum.

“Nanti tahu sendiri.” Aku merajuk. Tapi Abah masih tersenyum hangat.

***

Satu tahun setelah percakapan bersama Abah.


Di sinilah aku berada. Kalah dengan keadaan. Aku menangis direngkuhan Mbak Nadia. Menangisi keputusan Bu Nyai yang memintaku untuk menjadi ketua pondok. Aku ingin menolak, tapi urung memberontak. Aku ingin mundur, tapi tak berani matur, karena takut melukai hati Bu Nyai yang akan menjadikan beliau tidak ridho padaku. Astaghfirullah….

Bukankah aku dulu adalah santri yang langganan ta’zir dan sidang? Kenapa Bu Nyai bisa semudah itu memilihku? Padahal banyak sekali yang lebih baik, lebih mumpuni, dan tentunya lebih berpengalaman daripada aku?

Wislah, Na. Bu Nyai itu sudah percaya sama kamu. Pasti ya kamu bisa.”

Aku tetap tergugu. Sedih. Bimbang. Seolah pundakku dijatuhi banyak sekali benda berat. Belum selesai tangisku, namaku sudah dipanggil di pengeras suara.

“Ya Allah apalagi ini?” Desahku.
Aku buru-buru bangkit. Menuju ruang tamu.

Di sana kulihat Budhe Rahma duduk sendirian. Aku beringsut mendekat dan mencium telapak tangannya. Merasa heran, kenapa Budhe menyambangku.

“Pulang ya, Nduk?”

“Eh?”

Aku menatap Budhe heran. Memang ada apa di rumah?

“Mas Muiza pulang dari Yaman. Lha Abahmu nyuruh Budhe jemput kamu.”

Aku bersorak senang. Mungkin kali ini aku butuh pulang. Aku sedang butuh nasihat Abah, atau setidaknya senyum Abah.

Perkiraanku meleset jauh. Bukannya pulang ke Lasem, mobil Budhe justru sudah berbelok ke arah Rumah Sakit besar di kota Semarang. Hatiku diliputi kekecewaan luar biasa, dipenuhi takut yang tak tergambarkan.

Tangan Budhe menggenggam tanganku erat. Hatiku semakin berdebar-debar. Takut sesuatu terjadi pada Mas Muiza.

“Siapa yang sakit, Budhe?” tanyaku berusaha bersikap tenang.

Budhe diam. Beliau terus menggenggam tanganku hingga kami sampai di lantai lima. Perasaanku semakin terasa takut saat kulihat beberapa anak ndalem menunggu di lobi dan menatapku penuh rasa kasihan.

Aku masuk ke ruangan dengan perasaan cemas. Hatiku bergetar kuat. Kutemukan banyak orang di sana. Air mataku menderas hebat, saat kulihat ternyata Abah yang tertidur di atas kasur, di kelilingi Ibuk, Mas Hasyim, Mas Hilal, Mas Robin, Mas Minan, Mas Ridho, Mas Kana dan Mas Muiza, serta beberapa mbak iparku yang lain.

Ibuk buru-buru menghampiriku yang berdiri dengan wajah linglung dan langsung memelukku, “Abah nggak papa, Nok. Hanya lelah, habis tindak ke Cirebon.”

Aku tetap diam. Tak mampu menjawab perkataan ibuku. Aku terlalu takut pada banyak kemungkinan yang saat ini sedang saling berkejaran di otakku.

Aku berjalan pelan mendekati Abah. Mas Muiza berdiri dan memberikanku tempat duduk. Ruangan terdengar hening. Tinggal isakku yang samar-samar semakin sesak. Aku menggenggam tangan Abah. Lalu kembali menangis lagi. Lebih keras.

“Abah….”

Nok Syafna….”

Suara lirih itu membangunkanku dari perih yang menghentak. Pipiku diusap pelan. Aku segera bangun, dan mendapati Abah sadar dan sedang tersenyum padaku. Suasana kamar sudah hening. Ibuk juga sudah sare di kasur lipat bersama Mbak Vina. Aku kembali menatap Abah senang.

“Abah ingin minum?” tanyaku tenang. Meski sebenarnya hatiku sekarang sedang menahan ketakutan-ketakutan yang sudah tak bisa tenang lagi.

Abah menggeleng.

“Atau Abah ingin Syafna pijat? Abah sayah kan?” pintaku lagi. Tetapi Abah tetap menggeleng.

Aku tidak kuat lagi. Aku menangis sambil menciumi tangan Abah yang terasa dingin. Aku tahu Abah tidak suka melihatku rapuh. Tapi sungguh, kali ini aku sedang takut sekali. Takut yang tak bisa akujelaskan.

“Syafna takut, Bah….”

“Apa yang kamu takutkan?” tanya Abah lirih.

“Syafna takut kalau Abah…,” aku menangis. Tak bisa melanjutkan kalimatku. Abah mengusap jilbabku pelan.

“Kamu ingin tahu nafsu yang keenam, Nok?”

Aku mengusap air mataku. Mengangguk.

“Nafsu Mardhiyyah. Simbol Jawanya, Begawan Wisrawa. Nafsu itu melingkupi seluruh nafsu yang sudah Abah jelaskan.”

Aku diam menyimak.

“Ketika seseorang sudah mampu mengendalikan nafsu itu, maka saat itulah seseorang berada dalam ketenangan ruhani yang hakiki.”

Aku masih diam. Sedang airmataku terus menderas.

“Nok… Kullu nafsin dzaiqotul maut.”

“Abahhhh….”

“Lafadz kullu di sana, faedahnya kulliyyah. Artinya, semua orang pasti akan mati tanpa terkecuali.

Aku tergugu semakin dalam. Duh Gusti…. Aku belum siap kehilangan Abah. Aku belum siap melangkah tanpa Abah. Aku belum sekuat itu untuk menapak kehidupan tanpa Abah.

“Abah hanya bisa memberi pesan itu sama kamu. Diingat baik-baik ya, Nok.”

Aku mengangguk.

“Sholatnya, Qur’annya, semuanya harus direkso.”

Aku mengangguk lagi. Kali ini air mataku sudah semakin menderas tak tertahankan. Kuciumi telapak tangan Abah yang dingin, kugenggam erat tangan itu. Aku tak ingin melepasnya. Aku takut. Aku sangat takut sekali.
Abah tersenyum menatapku. Wajah beliau tampak bercahaya. Tangan beliau yang berada di genggamanku juga semakin terasa dingin. Abah menutup mata, seperti tidur. Tapi saat tangan beliau terkulai lemah, aku yakin, beliau tidak hanya tidur. Beliau tidak akan bangun kembali.

Aku luruh, menangis sejadi-jadinya. Bahkan saat orang-orang ke sana-kemari panik mengurusi Abah, aku tetap diam, memeluk lututku, menyelinapkan kepalaku pada tangan yang begetar. Rasanya sakit. Sakit yang sakitnya sudah tak terasa saking sakitnya.

Ya Rabb….

Abahku sudah pergi menemui-Mu. Abahku sudah pergi meninggalkanku. Abahku sudah tak akan lagi memberiku senyuman.

Tubuhku direngkuh dengan hangat. Tubuh yang merengkuhku pun terasa sama sakitnya, terasa sama pedihnya. Aku menangis di sana. Suaraku tertelan oleh sebuah sesak yang menjalar setiap inci tubuhku.

“Abah pergi karena beliau sudah percaya, kalau kita bisa mandiri untuk melangkah sendiri, Na.”

“Duh Gusti… bisakah aku melangkah saat satu kaki penopangku pergi secepat ini? Bahkan saat langkahku mulai bisa kuatur sendiri?”

“Ning?”

Aku mendongak. Menatap lelaki yang kini duduk di depanku. Tatapanku masih saja kosong. Abah baru saja dimakamkan.

“Ada titipan dari Abah waktu beliau masih sehat.”

Lelaki itu menyerahkan sebuah kalung berbandul bintang yang indah. Aku menerimanya ragu. Tapi laki-laki itu memberiku senyuman yang indah. Senyuman yang mirip sekali dengan senyuman Abah. Bahkan caranya memandangku juga persis seperti cara Abah memandangku. Dalam, tenang, dan penuh penghormatan.

Ya… dialah yang esok lusa akan menjadi tempatku mengabdi. Suamiku. Penyempurna imanku. Sayap yang akan membantu aku terbang dan sosok yang akan menggantikan Abah untuk selalu menguatkan langkahku. (*)

Nailul Wardah

Nailul Wardah binti Mastur (@nail.elabafie), Kelas: 2 Aliyah A Banat. Alamat: Bonang RT 01 RW 01, Kec. Lasem, Kabupaten Rembang, Prov. Jawa Tengah

Cerpen ini menjadi Juara dalam lomba penulisan cerpen Perpustakaan Perguruan Islam Mathali’ul Falah 2020 bekerja sama dengan pojokpim.com

Ilustrasi lukisan: Z. Musthofa – Ponorogo

Tinggalkan komentar

Pojok PIM

FREE
VIEW