Rekomendasi

IPNU-IPPNU Masuk Pesantren

Oleh Jamal Ma’mur Asmani

Pesantren adalah embrio lahirnya Nahdlatul Ulama. Dari Pesantren NU lahir. Tokoh-tokoh Pesantren menjadi top leader NU. The founding fathers NU adalah eksponen Pesantren.

Hadlratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hazbullah, KH Bisyri Syansuri, KH Ali Ma’shum, KH Ahmad Shiddiq, KH Ali Yafie, KH Ilyas Ruhiat, KH MA Sahal Mahfudh, KH A Mustafa Bisri, KH Ma’ruf Amin, Dan KH Miftahul Akhyar adalah Pengasuh Pesantren dengan reputasi keilmuan masing-masing.

Tanpa Pesantren NU bukan apa-apa. Pengaruh besar NU lahir dari figur Kiai Pesantren yang Punya pengaruh kuat di tengah masyarakat. Semakin luas pengaruh Kiai Pesantren, semakin luas jangkauan NU.

Karakter Aswaja An-Nahdliyyah yang moderat dalam akidah, toleran dalam pergaulan sosial, seimbang dalam Amar Ma’ruf nahyi mungkar, dan tegak lurus dalam menegakkan keadilan sosial menjadi Ciri khas Kiai Pesantren yang mewarnai perjalanan NU Dan bangsa. Keislaman Dan kebangsaan menyatu dalam satu ayunan Dan irama yang merdu, asyik Dan mempesona.

Karakter ini Tidak bisa hanya dijumpai dalam khazanah turast yang dikenal dengan kitab Kuning. Karakter ini hasil kombinasi pemahaman kitab Kuning dengan dialektika sosial yang berjalan secara dinamis di tengah masyarakat dalam kehidupan berbangsa Dan bernegara.

Kiai-kiai Pesantren adalah aktivis sosial kemasyarakatan yang bergumul langsung dengan problematika sosial sehingga lahir kearifan Dan Kebijaksanaan “wisdom” yang menjadi problem solving persoalan-persoalan keumatan, kemasyarakatan, kebangsaan, Dan kemanusiaan universal lintas sektoral.

Berdirinya Pondok Pesantren Tidak lepas dari visi mengeluarkan manusia dari “dzulumat” kegelapan menuju “Nur” cahaya, yakni Risalah Islam yang hanif (condong kepada kebenaran). Hal ini bisa dibaca dari sejarah lahirnya PP Tebuireng, PP Lirboyo, Dan PP Salafiyah Syafiiyyah Situbondo.

Maka, sudah seharusnya IPNU-IPPNU sebagai kawah candra dimuko calon-calon pemimpin NU Masa depan masuk di Rahim Pesantren atau sudah waktunya Pesantren membentuk IPNU-IPPNU untuk meneguhkan karakter Keislaman Dan kebangsaan pada kader-kader Masa depan NU.

Namun, IPNU-IPPNU Pesantren Harus menjiwai karakteristik Pesantren yang menitikberatkan kepada tafaqquh fiddin (pendalaman ilmu Agama), akhlakul karimah (moralitas agung), tawadlu’ (rendah hati), khidmah (melayani-mengabdi), Dan ikhlas dalam rangka menggapai ridla Allah.

Salah satu ciri menonjol Pesantren adalah pergaulan Putra Dan Putri yang diseterilkan atau discanning sehingga Tidak jatuh pada ijtima’ (kumpul-kumpul) atau ikhtilath (campur) putra-putri yang diharamkan dalam Islam. Pesantren lebih memakai kaidah “saddu adz-dzari’ah” menutup pintu rapat-rapat hal-hal yang menimbulkan fitnah yang menjurus kepada Zina Dan pendahuluan-pendahuluannya.

Oleh sebab itu, IPNU-IPPNU Pesantren Harus khas doktrin Dan amaliah Pesantren tanpa mereduksi sedikitpun. Justru hadirnya IPNU-IPPNU di Pesantren semakin meneguhkan orientasi tafaqquh fiddin-akhlakul karimah Dan memberikan kredit point : kristalisasi wawasan kebangsaan Dan skill manajemen profesional sebagai bekal menjadi Pemimpin NU Masa depan.

Dalam konteks Pesantren, pembaharuan seringkali sukses jika aktornya dari dalam. Dalam dunia pesantren, “Gus” Putra Kiai atau “Neng” Putri Kiai Punya peran Penting dalam menginisiasi pembaharuan Pesantren milik Ayahnya. KH Abdul Wahid Hasyim adalah contohnya. Beliau menginisiasi pembaharuan Pesantren Tebuireng sehingga Ada sistem klasikal, perpustakaan, Dan skill profesional untuk mengantisipasi dinamika zaman.

Dalam konteks IPNU-IPPNU, sudah saatnya “Gus” atau “Neng” tampil sebagai top leader IPNU-IPPNU atau masuk dalam jajaran struktural IPNU-IPPNU sehingga mampu menjadi fasilitator, dinamisator, Dan inspirator masuknya IPNU-IPPNU di Pesantren dengan koridor khas pesantren.

Sudah banyak “Gus” atau “Neng” yang bergelar akademik Dan Punya wawasan luas serta mobilitas tinggi sehingga kapasitas personal ini bisa digunakan untuk memperkuat Dan memperluas medan dakwah IPNU-IPPNU di Pesantren Dan di tengah masyarakat.

Jika agenda ini berhasil, maka Tidak kesulitan bagi IPNU-IPPNU mengadakan Bahtsul Masail karena Punya Kader melimpah di Pesantren yang mendalam kajian kitab kuningnya Dan Punya wawasan luas.

Virus Bahtsul Masail ini Akan menular di madrasah-madrasah yang menjadi basis utama IPNU-IPPNU selama ini, sehingga ke depan, NU punya stok sumber daya manusia yang handal dalam kajian kitab Kuning, manajemen Organisasi, Dan Punya wawasan kemasyarakatan Dan kebangsaan yang kuat.

Di sinilah terjadi konvergensi nilai-nilai kepesantrenan dengan nilai-nilai keorganisasian, kemasyarakatan, Dan kebangsaan yang memperkokoh bangunan NKRI, Pancasila Dan UUD 1945. Hal ini sesuai filosofi Pesantren “المحافظة علي القديم الصالح والأخذ بالجديد الاصلح”.

والله اعلم بالصواب

Kamis, 13 Februari 2020

Tinggalkan komentar

Pojok PIM

FREE
VIEW